Sistem Penanggalan Konghucu

Selasa, 27 Februari 2018
Mari Mengetahui Sistem Penanggalan Khonghucu!!!
*JANGAN KHAWATIR ORANG TIDAK MENGENAL DIRIMU, KHAWATIRLAH KALAU TIDAK MENGENAL ORANG LAIN.

Imlek (kalender bulan) atau Kalender Tionghoa adalah kalender lunisolar yang dibentuk dengan menggabungkan kalender bulan dan kalender matahari. Kalender Tionghoa sekarang masih digunakan untuk memperingati berbagai hari perayaan tradisional Tionghoa dan memilih hari yang paling menguntungkan untuk perkawinan atau pembukaan usaha. Kalender Tionghoa dikenal juga dengan sebutan lain seperti “Kalender Agrikultur” , “Kalender Yin “, “Kalender Lama” setelah “Kalender Baru” yaitu Kalender Masehi, diadopsi sebagai kalender resmi, dan “Kalender Xià” yang pada hakikatnya tidak sama dengan kalender saat ini.

SEJARAH PENANGGALAN IMLEK

Huang Di

Kalender Tionghoa mulai dikembangkan pada milenium ke-3 SM, konon ditemukan oleh penguasa legendaris pertama, Huáng Dì, yang memerintah antara tahun 2698 SM-2599 SM, dan dikembangkan lagi oleh penguasa legendaris ke-4, Kaisar Yáo. Siklus 60 tahun (ganzhi atau liùshí jiazi) mulai digunakan pada milenium ke-2 SM. Kalender yang lebih lengkap ditetapkan pada tahun 841 SM pada zaman Dinasti Zhou dengan menambahkan penerapan bulan ganda dan bulan pertama setiap tahun dimulai dekat dengan titik balik Matahari pada musim dingin.

Dinasti Qin

Kalender Sìfen (4 triwulan), yang mulai diterapkan sekitar tahun 484 SM, adalah kalender Tionghoa pertama yang memakai perhitungan lebih akurat, menggunakan penanggalan Matahari 365,25 hari, dengan siklus 19 tahun (235 bulan), yang dalam ilmu pengetahuan Barat dikenal sebagai Peredaran Metonic. Titik balik Matahari musim dingin adalah bulan pertamanya dan bulan gandanya disisipkan mengikuti bulan ke-12. Pada tahun 256 SM, kalender ini mulai digunakan oleh negara Qín, kemudian diterapkan di seluruh negeri Cina setelah Qín mengambil alih keseluruhan negeri Cina dan menjadi Dinasti Qín. Kalender ini tetap digunakan sepanjang separuh pertama Dinasti Hàn Barat.

Dinasti Han

Kaisar Wu dari Dinasti Han Barat memperkenalkan reformasi kalender baru. Kalender Tàichu (Permulaan Agung) pada tahun 104 SM mempunyai tahun dengan titik balik Matahari musim dingin pada bulan ke-12 dan menentukan jumlah hari untuk penanggalan bulan (1 bulan lamanya 29 atau 30 hari) dan bukan sesuai dengan prinsip terminologi Matahari (yang secara keseluruhan sama dengan tanda zodiak), karena gerakan Matahari digunakan untuk mengalkulasi Jiéqì (ciri-ciri musim).

Dinasti Tang

Sedangkan pada zaman Dinasti Jin dan Dinasti Tang juga sempat dikembangkan Kalender Dàyan dan Huángjí, walaupun tidak sempat dipergunakan. Dengan pengenalan ilmu astronomi Barat ke Tiongkok melalui misi penyebaran agama Kristen, gerakan bulan dan Matahari mulai dihitung pada tahun 1645 dalam Kalender Shíxiàn Dinasti Qing, yang dibuat oleh Misioner Adam Schall.
CARA PERHITUNGAN PENANGGALAN IMLEK

Kalender Tionghoa memiliki aturan yang sedikit berbeda dengan kalender umum, seperti: perhitungan bulan adalah rotasi bulan pada bumi. Berarti hari pertama setiap bulan dimulai pada tengah malam hari bulan muda astronomi. (Catatan, “hari” dalam Kalender Tionghoa dimulai dari pukul 23:00 dan bukan pukul 00:00 tengah malam). Satu tahun ada 12 bulan, tetapi setiap 2 atau 3 tahun sekali terdapat bulan ganda (rùnyuè, 19 tahun 7 kali). Berselang satu kali jiéqì (musim) tahun Matahari Cina adalah setara dengan satu pemulaan Matahari ke dalam tanda zodiak tropis. Matahari selalu melewati titik balik Matahari musim dingin (masuk Capricorn) selama bulan 11.

Jika Kalender Masehi menggunakan Sistem Solar atau Matahari dan Kalender Hijriah menggunakan Sistem Lunar, Bulan atau Komariah, maka Kalender Imlek memadukan keduanya, yang disebut Sistem Lunisolar.

SISTEM SOLAR ATAU MATAHARI

Kalender Masehi menggunakan Sistem Solar atau Matahari. Perhitungan sistem ini didasari oleh orbit Bumi mengitari Matahari, yang memakan waktu sekitar 365,25 hari per tahun. Jumlah hari per bulannya antara 30 atau 31 hari. Khusus untuk bulan Februari jumlahnya 28 hari, namun pada tahun yang habis dibagi empat, seperti halnya tahun 2004, jumlah hari bulan Februari menjadi 29, sebagai pembulatan kelebihan 0,25 hari per tahun.

Sistem Solar mempunyai keunggulan bisa menghitung secara tepat kapan jatuhnya musim semi, panas, rontok dan dingin, karena ia bisa menentukan letak semu Matahari terhadap Bumi secara pasti, kapan tepat berada di atas Khatulistiwa, pada 23,5° Lintang Utara, kembali ke Khatulistiwa, pada 23,5° Lintang Selatan, kembali lagi ke Khatulistiwa dan seterusnya.

SISTEM LUNAR ATAU BULAN
Kalender Hijriah menggunakan Sistem Lunar. Sistem ini didasarkan pada orbit Bulan mengitari Bumi. Rata-rata jumlah hari per bulannya 29,5 hari, yang kemudian dibulatkan menjadi 29 dan 30 hari. Dari sini kita bisa menghitung bahwa jumlah hari per tahunnya adalah 29,5 x 12 = 354 hari, atau 11,25 hari lebih pendek dari Kalender Masehi. Inilah yang menyebabkan 1 Muharram dan Idul Fitri selalu maju 11 hari lebih awal.

Sistem Lunar tidak bisa menghitung kapan terjadi pergantian musim, namun ia mempunyai keunggulan bisa digunakan untuk menentukan kapan terjadi bulan baru dan purnama, yang masing-masing terjadi tanggal 1 dan 15. Karenanya sistem ini bisa digunakan untuk menentukan kapan terjadinya air surut dan air pasang, sesuatu yang tidak bisa dilakukan Sistem Solar.

KALENDER IMLEK DAN SISTEM LUNISOLAR

KalenderFenomena Lun Imlek menggunakan Sistem Lunisolar. Perhitungan jumlah hari per bulan didasarkan pada Sistem Solar, sedang selisih 11,25 hari per tahunnya dikonversi dengan menyisipkan bulan ke –13 pada tahun tertentu sebanyak 7 kali per 19 tahun, agar jumlah hari per tahunnya sesuai dengan Sistem Solar, karena 11,25 x 19 = 213,75 hari atau setara dengan 7 bulan.

Mekanisme penyisipan bulan ke –13 disebut ‘lun’. Dengan tambahan bulan ke –13, maka akan terjadi bulan dobel pada tahun-tahun tertentu. Pada tahun 2555, terjadi ‘lun’ di bulan –2. Dengan demikian setelah bulan –1, bulan -2, masuk ke bulan –2 lagi dan baru kemudian ke bulan –3, -4, -5 dst.

Dengan mekanisme penyisipan tersebut, maka Kalender Imlek di samping bisa digunakan untuk menghitung kapan terjadi bulan purnama, air surut dan air pasang, juga bisa digunakan untuk menentukan pergantian musim.

PENENTUAN TAHUN AWAL KALENDER IMLEK

Kalender Imlek ini diciptakan Huang Di, 2696-2598 sM, salah satu raja suci purba dan Nabi dalam Ru Jiao (agama Khonghucu) dan digunakan pertama kali oleh Dinasti Xia, 2205-1766 sM. Awal tahun baru ditetapkan jatuh pada awal musim semi. Ketika Xia jatuh diganti Dinasti Shang, 1766-1122 sM, awal tahun baru dimajukan satu bulan, berbarengan dengan akhir musim dingin. Ketika Shang digantikan Dinasti Zhou, 1122-255 sM, awal tahun barunya dimajukan lagi sebulan, tepat pada puncak musim dingin.

Kongzi, Khongcu atau Confucius hidup pada jaman Dinasti Zhou, 551-479 sM. Suatu ketika ia menganjurkan agar Dinasti Zhou kembali menggunakan Kalender Xia, karena tahun barunya jatuh pada musim semi, sehingga cocok dijadikan pedoman bercocok tanam. Namun nasihat ini baru dilaksanakan Han Wu Di dari Dinasti Han, 140-86 sM, pada 104 sM. Sejak itu Kalender Xia, yang kini dikenal sebagai Kalender Imlek diterapkan kembali.

Sebagai penghormatan kepada Kongzi, perhitungan tahun pertama Kalender Imlek ditetapkan oleh Han Wu Di dihitung sejak kelahiran Kongzi, yaitu sejak tahun 551 sM. Itulah sebabnya Kalender Imlek lebih awal 551 tahun ketimbang Kalender Masehi. Jika sekarang kalender Masehi bertahunkan 2012, maka Kalender Imlek bertahunkan 2012 + 551 = 2563. Pada saat bersamaan agama Khonghucu (Ru Jiao) ditetapkan Han Wu Di sebagai agama negara. Sejak saat itu penanggalan Imlek juga dikenal sebagai Kongli (Penanggalan Kongzi).

Penghormatan yang diterima Kongzi, setara dengan yang diterima Nabi Isa Almasih dan Nabi Muhammad, SAW. Tahun pertama Kalender Masehi dihitung sejak tahun kelahiran Nabi Isa Almasih, sedang tahun pertama Kalender Hijriah dihitung sejak hijrahnya Nabi Muhammad, SAW, dari Mekkah ke Madinah.

PENENTUAN AWAL TAHUN BARU

Pada tanggal 22 Desember letak Matahari berada di 23,5° Lintang Selatan. Di bagian Selatan Bumi, hari itu merupakan hari terpanjang; sedang di Utara merupakan hari terpendek. Setelah 22 Desember Matahari bergerak ke Utara dan pada hari ke –91 atau 21 Maret, tepat berada di atas 0° atau Khatulistiwa. Hari ke –46 setelah pergerakan Matahari ke Utara atau tanggal 5 Februari – yang merupakan titik tengah antara 23,5° Lintang Selatan dengan Khatulistiwa – merupakan awal musim semi. Karena jumlah hari per bulan adalah 29,5 atau 30 hari, maka kisaran setengah bulan ke depan dan ke belakang dari tanggal 5 Februari adalah tanggal 21 Januari dan 19 Februari. Ini sebabnya awal Tahun Baru Imlek jatuh di antara kedua tanggal tersebut.

Batas 21 Januari s.d. 19 Februari ini yang menentukan terjadinya penyisipan bulan –13. Ketika awal Tahun Baru Imlek maju 11,25 hari per tahun dan diperhitungkan akan melewati 21 Januari, maka tahun tersebut disisipi bulan –13. Dengan demikian awal tahun baru yang mestinya maju 11 hari melewati 21 Januari, malah mundur 30 – 11 = 19 hari. Pada tahun Masehi yang habis dibagi empat (366 hari), awal Tahun Baru Imlek sesudahnya akan maju 12 hari atau mundur 18 hari.

LUN GWEE

Lun-gwee adalah bulan kabisat dalam kalender Imlek. Di dalam kalender Gregorian (Masehi) yang kita kenal sebagai tahun kabisat, di mana setiap 4 tahun sekali ada 29 hari dalam bulan Februari. Dalam kalender Imlek, kita kenal bulan kabisat, di mana ada 2 bulan yang sama dalam setahun, artinya 1 tahun Imlek tersebut mempunyai 13 bulan.

MENGAPA HARUS ADA LUN GWEE?

Penanggalan Yangli KongziliLun-gwee ini ada di dalam kalender Imlek karena kalender Imlek adalah kalender lunisolar, kalender yang mendasarkan perhitungannya atas pergerakan bulan dan matahari. Memperhitungkan matahari karena Tiongkok adalah negara agraris di mana pergantian musim sangat penting untuk memutuskan waktu mulai menanam dan memanen. Juga memutuskan tanaman apa saja yang cocok untuk ditanam untuk musim berbeda.

Namun, kalender lunar yang mendasarkan perhitungan atas gerakan bulan cuma punya 29.5 hari dalam 1 bulan atau 354 hari dalam setahun. Sedangkan pergerakan matahari adalah 365.25 hari dalam setahun. Sehingga ada beda 11.25 hari antara setahun kalender lunar dengan kalender matahari. Lun-gwee kemudian ditambahkan ke dalam tahun Imlek untuk sinkronisasi perhitungan atas pergerakan bulan dengan pergerakan matahari itu. Berdasarkan perhitungan, maka ada 7 bulan kabisat yang perlu ditambahkan dalam periode 19 tahun Imlek.

BAGAIMANA CARA PENETAPAN LUN GWEE?
Penetapan Lun-gwee tidak tentu, sekitar 2 atau 3 tahun sekali ditambahkan 1 bulan kabisat pada tahun Imlek tersebut. Misalnya tahun 2004, ada 2 kali bulan 2 (lun Ji gwee), tahun 2006 ada 2 kali bulan 7 (lun Chit gwee), tahun 2009 ada 2 kali bulan 5 (lun Go gwee) dan tahun 2012 ini ada 2 kali bulan 4 (lun Si wee)

Penentuan bulan apa yang akan menjadi bulan kabisat ini tidak tentu dan tidak beraturan, namun ada aturannya. Pada dasarnya kaitannya erat dengan periode matahari. Periode matahari adalah istilah lain dalam kalender Imlek, ada 24 periode matahari dalam setahun. 2 periode matahari yang terkenal misalnya Ceng-beng dan Tang-che. Ceng-beng ziarah ke makam selalu jatuh pada tanggal 4 atau 5 April setiap tahunnya, sedang Tang-che makan ronde tetap jatuh pada tanggal 21 atau 22 Desember setiap tahun.

Jarak antar periode matahari pada dasarnya adalah 15.75 hari, namun jumlah hari pada 1 bulan Imlek hanya 29.5 hari, sehingga berdasarkan perhitungan setiap 2 atau 3 tahun sekali akan ada 1 bulan yang tidak punya periode matahari genap atau sederhananya, ada bulan Imlek yang hanya punya 1 periode matahari. Bulan inilah yang harus di-kabisat-kan.

BAGAIMANA KALAU KITA LAHIR DI BULAN LUN GWEE?

Lahir di Lun-gwee, misalnya lahir pada lun Go gwee (kabisat bulan 5), maka ulang tahun Imleknya adalah tetap pada bulan 5 setiap tahunnya, tetapi yang diperingati adalah bulan 5 yang pertama, bukan yang kabisatnya.

KALAU LUN PEK GWEE (KABISAT BULAN 8)
APAKAH BERARTI ADA 2 KALI PERAYAAN FESTIVAL MUSIM GUGUR?

Pada dasarnya tidak begitu, festival musim gugur tanggal 15 bulan 8 hanya dirayakan pada bulan 8 asli, bulan 8 kabisat tidak usah dirayakan.

MENGAPA LUN GWEE KELIHATAN TIDAK BERATURAN PENENTUANNYA?

Kalender lunar mendasarkan perhitungan atas gerakan bulan hanya punya 29.5 hari dalam 1 bulan atau 354 hari dalam setahun. Sedangkan pergerakan matahari adalah 365.25 hari dalam setahun. Sehingga ada beda 11.25 hari antara setahun kalender lunar dengan kalender matahari. Lun-gwee kemudian ditambahkan ke dalam tahun Imlek untuk sinkronisasi perhitungan atas pergerakan bulan dengan pergerakan matahari itu. Berdasarkan perhitungan, maka ada 7 bulan kabisat yang perlu ditambahkan dalam periode 19 tahun Imlek. 19 tidak bisa dibagi rata 7, maka dari itu kadang sekitar 2 atau 3 tahun sekali ditambahkan 1 bulan kabisat pada tahun Imlek tersebut. Misalnya pada tahun 2004 ada 2 kali bulan 2 (lun Ji gwee), tahun 2006 ada 2 kali bulan 7 (lun Chit gwee), tahun 2009 ada 2 kali bulan 5 (lun Go gwee) dan tahun 2012 ini ada 2 kali bulan 4 (lun Si gwee)

Penentuan bulan apa yang akan menjadi bulan kabisat ini tidak tentu dan tidak beraturan, namun ada aturannya. Pada dasarnya kaitannya erat dengan periode matahari. Periode matahari adalah istilah lain dalam kalender Imlek, ada 24 periode matahari dalam setahun. 2 periode matahari yang terkenal misalnya Ceng-beng dan Tang-che. Ceng-beng ziarah ke makam selalu jatuh pada tanggal 4 atau 5 April setiap tahunnya, sedang Tang-che makan ronde tetap jatuh pada tanggal 21 atau 22 Desember setiap tahun.

Jarak antar periode matahari pada dasarnya adalah 15.75 hari, namun jumlah hari pada 1 bulan Imlek hanya 29.5 hari, sehingga berdasarkan perhitungan setiap 2 atau 3 tahun sekali akan ada 1 bulan yang tidak punya periode matahari genap atau sederhananya, ada bulan Imlek yang hanya punya 1 periode matahari. Bulan inilah yang harus di-kabisat-kan.

ADAKAH KEBIASAAN YANG DILAKUKAN PADA SETIAP BULAN LUN GWEE?

Kebiasaan seperti itu mSembahyangemang ada, seperti misalnya di Taiwan Selatan pada setiap bulan Lun, anak perempuan (termasuk putrinya yang sudah menikah ke keluarga lain) untuk memberikan Mi Shua (mian shou atau mie panjang umur). Hal ini disebabkan karena ada kepercayaan dengan adanya bulan Lun maka umur orang tua akan berkurang, dengan cara memberikan doa panjang umur serta mie panjang umur akan membuat hal diatas tidak terjadi.

Masing-masing sub etnis memiliki kebiasaan yang berbeda. Makna dari pemberian ini adalah bakti dari anak perempuan kepada orang tua. Karena zaman dulu, anak perempuan yang telah menikah dianggap merupakan bagian dari keluarga sang suami dan berbakti kepada orang tua sang suami, namun untuk tidak melupakan jasa orang tua membesarkan sang anak perempuan sampai menikah, maka ada tradisi seperti ini.

NAMA NAMA BULAN

NO PENANGGALAN TIONG HOA LAMA HARI
1 Cia Gwee 30
2 Ji Gwee 29
3 Sa Gwee 30
4 Si Gwee 30
5 Go Gwee 29
6 Lak Gwee 30
7 Cit Gwee 29
8 Pe Gwee 29
9 Kauw Gwee 30
10 Cap Gwee 29
11 Cap It Gwee 29
12 Cap Ji Gwee 30
13 Lun … Gwee -30
TOTAL 354/(384)

HARI BESAR AGAMA KHONGHUCU

NO TANGGAL KETERANGAN

  1. 1 bulan I (Zheng Yue) Sembahyang Tahun Baru Kongzili/Yinli, Xin Zheng, atau Chun Jie.
  2. 4 bulan I (Zheng Yue) Sembahyang Menyambut Malaikat Dapur Turun (Ying Zao Jun Xia Jiang).
  3. 8/9 bulan I (Zheng Yue) Sembahyang Besar kepada Tuhan YME (Jing Tian Gong).
  4. 15 bulan I (Zheng Yue) Sembahyang Syukur Shang Yuan Jie/Yuan Xiao Jie, atau Cap Go Me.
  5. 18 bulan II (Er Yue) Sembahyang Hari Wafat Nabi Kongzi (Zhi Sheng Ji Chen).
  6. 4 atau 5 April Sembahyang Hari Sadranan (Qing Ming Jie).
  7. 5 bulan V (Wu Yue) Sembahyang Duan Yang Jie/Duan Wu Jie, atau Bai Chuan.
  8. 15 bulan VII (Qi Yue) Sembahyang Arwah Leluhur (Zhong Yuan Jie).
  9. 29 bulan VII – (Qi Yue) Sembahyang Arwah Umum (Jing He Ping/Jing Hao Peng).
  10. 15 bulan VIII (Ba Yue) Sembahyang Syukur kepada Tuhan YME dan kepada Malaikat Bumi (Fu De Zheng Shen) pada saat pertengahan Musim Gugur (Zhong Qiu Jie).
  11. 27 bulan VIII (Ba Yue) Sembahyang Hari Lahir Nabi Kongzi (Zhi Sheng Dan).
  12. 15 bulan X (Shi Yue) Sembahyang Syukur Akhir Panen kepada Tuhan YME dan kepada Malaikat Bumi (Fu De Zheng Shen) pada awal Musim Dingin (Xia Yuan Jie).
  13. 21 atau 22 Desember Sembahyang Hari Genta Rohani dan Wafatnya Mengzi (Dong Zhi Jie).
  14. 24 bulan XII (Shi Er Yue) Sembahyang Hari Persaudaraan; Mengantar Malaikat Dapur Naik (Song Zao Jun Shang Tian, atau Er Si Sheng An).
  15. 29 atau 30 bulan XII (Shi Er Yue) Sembahyang Tutup Tahun (Chu Xi).

TEMPAT IBADAH AGAMA KHONGHUCU

Kong Miao, (Confucius Temple); Ada satu ciri khas yang membedakaKelenteng Kong Miaon antara Miao atau Kuil Khonghucu dengan bangunan tempat ibadah yang serupa. Pada umumnya di dalam Kong Miao tidak terdapat patung dewa-dewi, melainkan hanya berupa tulisan pada papan peringatan (Sienci) yang biasanya hanya berisi tulisan tentang nama Nabi Kongfuzi/Khonghucu (nama yang lebih umum Kongzi dan juga nama-nama para muridnya yang terkenal). Bangunan Kong Miao yang tertua di Indonesia terdapat di kota Surabaya yang dikenal dengan “Boen Bio” dan Khongcu Bio di kota Cirebon.

Litang, (Ruang Ibadah); Litang adalah nama tempat ibadah agama Khonghucu yang banyak terdapat di Indonesia. Saat ini sudah ada lebih dari 150 Litang yang tersebar di seluruh Indonesia yang berada di bawah naungan MAKIN (Majelis Agama Khonghucu Indonesia) dan organisasi pusatnya adalah MATAKIN (Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia). Ciri tempat ibadah tersebut selain altarnya yang berisi Kim Sin Nabi Kongzi/Khonghucu, juga biasanya terdapat lambang “Mu Duo” atau Bok Tok (dalam dialek Hokian) yaitu berupa gambar Genta dengan tulisan huruf ‘Zhong Shu’ atau Tiong Sie (bahasa Hokian) artinya “Satya dan Tepasarira/Tenggang Rasa” yang merupakan inti ajaran agama Khonghucu. Hal ini sesuai dengan Sabda Nabi Kongzi dalam Kitab Lun Yu “Apa yang diri sendiri tiada inginkan, janganlah diberikan terhadap orang lain”. Umat Khonghucu biasanya melakukan ibadah di Litang setiap tanggal 1 dan 15 penanggalan Imlek. Namun ada pula yang melaksanakannya pada hari Minggu dan hari lain, hal ini disesuaikan dengan kondisi dan keadaan setempat. Upacara-upacara hari keagamaan lain seperti peringatan Hari Lahir Nabi Khonghucu (28 bulan 8 Iemlik), Hari Wafat Khonghucu (18 bulan 2 Iemlik), Hari Tangcik (Genta Rohani), dan Tahun Baru Iemlik, dsb. biasanya juga dilakukan di Litang.

Kelenteng, Miao; kelenteng pada umumnya digunakan sebagai sarana tempat bersembahyang/ibadah oleh kebanyakan orang Tionghoa terutama umat tradisional sehingga kadang-kadang kita sulit membedakan apakah mereka itu penganut aKlenteng Tien Kok Siegama Buddha Mahayana, Khonghucu atau Tao. Namun kalau kita telaah lebih jauh, ada ciri yang membedakan dari ketiga bangunan tempat ibadah masing-masing penganut agama tersebut yaitu dari nama kelenteng tersebut dan juga para Dewa-dewi yang berada dalam bangunan Kelenteng tersebut. Namun secara umum bangunan Kelenteng biasanya bergaya arsitektur khas Tiongkok, misalnya terdapat ukiran Naga atau Liong pada bagian atas atap atau tiang/pilarnya,ada lukisan Qilin (Hokkian:Kilien) binatang yang dianggap suci, bentuknya seperti seekor rusa, kulitnya bersisik berwarna hijau keemasan, bertanduk tunggal. Hewan suci ini pernah muncul pada saat menjelang kelahiran Khonghucu/Kongzi dan terbunuh oleh Pangeran Lu Ai Gong dalam perburuannya yang menandai peristiwa sebelum kewafatan Khonghucu. Klenteng atau kelenteng (bahasa Hokkian: miao) adalah sebutan untuk tempat ibadah penganut kepercayaan tradisional Tionghoa di Indonesia pada umumnya. Dikarenakan di Indonesia, penganut kepercayaan tradisional Tionghoa sering disamakan sebagai penganut agama Konghucu, maka klenteng dengan sendirinya disamakan sebagai tempat ibadah agama Konghucu. Di beberapa daerah, klenteng juga disebut dengan istilah tokong. Istilah ini diambil dari bunyi suara lonceng yang dibunyikan pada saat menyelenggarakan upacara. Klenteng bagi masyarakat Tionghoa tidak hanya berarti sebagai tempat ibadah saja. Selain Gong-guan (Kongkuan), Klenteng mempunyai peran yang sangat besar dalam kehidupan komunitas Tionghoa dimasa lampau.

ASAL MULA KATA KLENTENG

Klenteng dibangun pertama kali pada tahun 1650 oleh Letnan Kwee Hoen dan dinamakan Kwan Im Teng. Klenteng ini dipersembahkan kepada Kwan Im (dewi penyayang). Dari kata Kwan Im Teng inilah orang Indonesia akhirnya lebih mengenal kata Klenteng daripada Vihara, yang kemudian melafalkannya sebagai Klenteng hingga saat ini. Klenteng juga disebut sebagai bio yang merupakan dialek Hokkian dari karakter (miao). Ini adalah sebutan umum bagi klenteng di Republik Rakyat Tiongkok.

Miao QuFu Pada mulanya, klenteng adalah tempat penghormatan pada leluhur “Ci” (rumah abuh), masing-masing marga membuat “Ci” untuk menghormati para leluhur mereka sebagai rumah abuh. Para dewa-dewi yang dihormati tentunya berasal dari suatu marga tertentu yang pada awalnya dihormati oleh marga mereka. Seiring perkembangan zaman, penghormatan kepada dewa-dewi yang kemudian dibuatkan ruangan khusus yang dikenal sebagai klenteng yang dapat dihormati oleh berbagai macam marga, suku. Di dalam klenteng bisa ditemukan (bagian samping atau belakang) dikhususkan untuk abuh leluhur yang masih tetap dihormati oleh para sanak keluarga masing-masing. Ada pula di dalam klenteng disediakan tempat untuk mempelajari ajaran-ajaran atau agama leluhur seperti ajaran-ajaran Konghucu, Taoisme, dan bahkan ada pula yang mempelajari ajaran Buddha. Klenteng selain sebagai tempat penghormatan para leluhur, para dewa-dewi, dan tempat mempelajari berbagai ajaran, juga digunakan sebagai tempat yang damai untuk semua golongan tidak memandang dari suku dan agama apapun.

KATEGORI KLENTENG

Klenteng adalah sebutan umum bagi tempat ibadat orang Tionghoa sehingga klenteng sendiri terbagi atas beberapa kategori yang mewakili agama Taoisme , Konghucu , Buddhisme , Agama Rakyat atau Sam Kaw yang masing-masing memiliki sebutan tempat ibadat yang berbeda-beda.

KLENTENG DAN VIHARA PADA ORDE BARU

Pada masyarakat awam, banyak yang tidak mengetahui perbedaan dari klenteng dan vihara. Klenteng dan vihara pada dasarnya berbeda dalam arsitektur, umat, dan fungsi. Klenteng pada dasarnya beraritektur tradisional Tionghoa dan berfungsi sebagai tempat aktivitas sosial masyarakat selain berfungsi sebagai tempat spiritual. Vihara berarsitektur lokal dan biasanya mempunyai fungsi spiritual saja. Namun, vihara juga ada yang berarsitektur tradisional Tionghoa seperti pada vihara Buddhis aliran Mahayana yang memang berasal dari Tiongkok.

Perbedaan antara klenteng dan vihara kemudian menjadi rancu karena peristiwa Gerakan 30 September pada tahun 1965. Imbas peristiwa ini adalah pelarangan kebudayaan Tionghoa termasuk kepercayaan tradisional Tionghoa oleh pemerintah Orde Baru. Klenteng yang ada pada masa itu terancam ditutup secara paksa. Banyak klenteng yang kemudian mengadopsi nama dari bahasa Sanskerta atau bahasa Pali yang mengubah nama sebagai vihara dan mencatatkan surat izin dalam naungan agama Buddha demi kelangsungan peribadatan dan kepemilikan, sehingga terjadi kerancuan dalam membedakan klenteng dengan vihara.

Setelah Orde Baru digantikan oleh Orde Reformasi, banyak vihara yang kemudian mengganti nama kembali ke nama semula yang berbau Tionghoa dan lebih berani menyatakan diri sebagai klenteng daripada vihara atau menamakan diri sebagai Tempat Ibadah Tridharma (TITD).

Sumber Altiker:

http:// https://www.gurisa.com/penanggalan-dan-tempat-ibadah-agama-khonghucu/http://informasi-mediakita.blogspot.com/2018/02/mari-mengetahui-sistem-penanggalan.html?m=1&fbclid=IwAR1n-0x8ROkSGW5MV79LzYQIEQG0E5xgfO8Gpa_eAqmYEdbJet3xCd8nXT0

PRINSIP-PRINSIP DALAM AGAMA KHONGHUCU

Januari 18, 2019 Sumber : Drs. Uung Sendana Linggaraja,SH.

https://uungsendana.blogspot.com/2019/01/prinsip-prinsip-dalam-agama-khonghucu.html

Salam Kebajikan,
Dalam pengalaman hidup saya, acapkali kawan-kawan saya yang beragama berbeda memberi penilaian agama Khonghucu yang saya anut dari kacamata keyakinan agama yang dipeluk oleh mereka, padahal disamping terdapat nilai-nilai universal yang sama, masing-masing agama mempunyai perbedaan. Tak sepatutnya seseorang memberi penilaian terhadap agama orang lain dengan kacamata keyakinan yang dianutnya.
Coba kita renungkan beberapa prinsip dalam agama Khonghucu yang mungkin berbeda dengan prinsip dalam agama lain:

  1. Agama Ru-Khonghucu senantiasa mengajarkan umatnya untuk melakukan sesuatu setahap demi setahap. – Untuk mendaki tempat tinggi, dimulai dari bawah; untuk mencapai tempat jauh dimulai dari dekat. – Cheng (iman) tidak dimaksudkan hanya untuk menyempurnakan diri pribadi semata, tetapi pada akhirnya menyempurnakan segenap wujud. – Pengetahuan sempurna dicapai dengan belajar setahap demi setahap. – Damai di dunia dimulai dari meneliti hakekat tiap perkara. – Berhasil dimulai dari menetapkan tujuan. – Untuk mengenal dan mengabdi pada Tian dimulai dengan menyelami hati, merawat Watak Sejati.
  2. Agama Ru-Khonghucu mengajarkan pada umat agar menempatkan yang pokok sebagai pokok, yang ujung sebagai ujung, bukan sebaliknya. – Laku Bakti dan Rendah Hati mengawali kebajikan-kebajikan lain. – Harta kekayaan adalah ujung, kebajikan adalah Pokok. – Tidak khawatir orang tidak mengenal dirinya, tetapi khawatir kalau tidak dapat mengenal orang lain. – Anugerah pemberian Tian lebih penting dari pada anugerah pemberian manusia. – Untuk mengenal hal setelah mati perlu mengenal hidup terlebih dahulu. – Mengabdi pada manusia terlebih dahulu sebelum dapat mengabdi pada Roh.
  3. Dao tidak dimaksudkan jauh dari manusia, yang jauh dari manusia bukanlah Dao.
  4. Orang lah yang harus mengembangkan Dao, bukan Dao yang mengembangkan orang.
  5. Hal-hal yang dibicarakan disesuaikan dengan kemampuan dan pengetahuan seseorang.
  6. Karena sejak lahir manusia telah menerima Xing (Watak Sejati), Firman Tian dalam dirinya, agama Khonghucu mengajarkan: Hidup adalah anugerah yang perlu di-syukuri, bukan dosa yang diemban atau penderitaan yang perlu ditanggung.  
  7. Kesadaran untuk hidup sesuai Hukum Tian, hidup di dalam Dao, mengikuti Watak sejati bukan karena (semata-mata) takut akan hukuman, tetapi rasa syukur atas anugerah Tian pada dirinya. Dengan tanpa dipikir-pikir lagi kata dan perbuatan senantiasa selaras dan sesuai. Inilah Iman.
  8. Menempatkan hal yang pokok sebagai pokok dan menempatkan hal yang ujung sebagai ujung adalah Hukum Tian yang wajib diikuti manusia untuk meng-hindarkan manusia dari kesesatan dan kebingungan.
  9. Sesuai pandangan Nabi Kongzi, agama Ru-Khonghucu mempunyai pandangan sendiri mengenai orang yang telah mati. Nabi bersabda, “Terhadap orang yang telah mati, bila memperlakukannya benar-benar sama sekali sudah mati, itu tidak berperi Cinta-Kasih, maka jangan dilakukan. Terhadap orang yang sudah mati, memperlakukan seperti benar-benar masih hidup, itu tidak bijaksana dan janganlah dikerjakan. Maka wadah yang dibuat dari bambu (untuk perlengkapan upacara pe-makaman) dibuat tidak sempurna untuk digunakan; periuk untuk mencuci tidak dibuat sempurna untuk digunakan; kayu yang digunakan tidak sempurna terukir. Qin Se 琴瑟 (Kecapi dan celempung) dapat berbunyi, tetapi rancu nada; seruling dibuat lengkap, tetapi tidak harmonis; lonceng dan batu musik disiapkan, tetapi tanpa kuda-kuda. Semua itu dinamakan Ming Qi 明器 (peralatan sembahyang) …. Dengan demikian, orang yang mati diperlakukan sebagai Shen Ming”. (Li Ji Bab Tan Gong III: 3. Dari ayat ini timbullah budaya membuat barang-barang dari kertas bagi orang yang meninggal dunia, seperti rumah-rumahan, orang-orangan, mobil-mobilan, dan sebagainya).
  10. Agama Khonghucu mempunyai cara berpikir dan spiritualitas sendiri yang digambarkan oleh Prof. Lee T. Oei sebagai “Hubungan antara surga dan dunia dalam agama Ru-Khonghucu seperti juga agama-agama ‘Timur’ lain – bukan hubungan yang saling berlawanan, terpisah dan serba dua, tetapi suatu kesinambungan yang saling berkaitan, kerjasama, gotong royong, saling melengkapi dan membangun bergaya yin-yang, tidak bertentangan secara eksklusif”

Bertolak dari pemahaman pada prinsip-prinsip inilah, kita akan dapat menempatkan agama Khonghucu dalam perspektif yang tepat dan tidak mudah memberi penghakiman seperti yang sering kali saya alami.

Makna Tahun Baru Imlek

Ditulis oleh : Ws.Budi S Tanuwibowo 

Sejak tahun 2002 Tahun Baru Imlek ditetapkan sebagai Hari Libur Nasional oleh Presiden Megawati Soekarnoputri, setelah dua tahun sebelumnya ditetapkan sebagai Hari Libur Fakultatif oleh Presiden KH.Abdurrahman Wahid. Jauh sebelumnya, pada tahun 1946, Presiden Republik Indonesia Pertama, Ir.Sukarno, telah menetap 4 (empat) Hari Libur Fakultatif bagi masyarakat Tionghoa yang waktu itu mayoritas masih beragama Khonghucu, yakni : Tahun Baru Imlek, Qing Ming (Ceng Beng), Hari Lahir Nabi Kongcu (Kongzi, Confucius) dan Hari Wafat Nabi Kongcu. 

Meski sudah dikenal lama dan bahkan telah ditetapkan sebagai Hari Libur Fakultatif sejak tahun 1946, namun karena pernah mengalami masa pengekangan pasca keluarnya Inpres No.14 / 1967 yang membatasi agama, adat istiadat dan budaya Tionghoa (efektif berlaku 1978-1998), banyak orang yang kemudian bingung dan tidak memahami benar makna Tahun Baru Imlek selengkapnya, terutama dikalangan generasi muda. 

Agama atau Budaya? 
Banyak orang yang bingung dan kemudian berdebat, Tahun Baru Imlek itu hari raya agama, etnis ataukah budaya? Padahal, perdebatan itu sebenarnya sederhana saja dan mudah diakhiri dengan pertanyaan berikut : 

Kalau budaya, apakah memerrlukan upcara dan sembahyang yang kita pahami benar menjadi ranah agama? 
Kalau etnis (dalam hal ini Tionghoa), mengapa juga dirayakan oleh bangsa-bangsa lain seperti Jepang, Korea, Vietnam dan bangsa lainnya, meski dengan istilah berbeda? Bahkan banyak suku Jawa, Sunda, Manado, Papua dan sebagainya, yang meraykan Tahun Baru Imlek? Bagaimana menjelaskan fenomena ini? 
Lihatlah semua hari libur nasional Indonesia, Kalau tidak terkait peristiwa penting nasional, pastti terkait dengan agama. Apa hebatnya suku Tionghoa dibanding suku lainnya, sampai hari raya budaya atau sukunya perlu dirayakan secara khusus? Bagaimana dengan suku Jawa, Madura, Sunda, Batak dan lainnya? Apakah nanti tidak terjadi iri hati? 

Masih banyak hal sederhana yang bisa dengan mudah menegaskan bahwa Tahun Baru Imlek sejatinya agama. Namun agar kita tidak terjebak pada kesempitan pandangan, ada baiknya kita membahas makna Imlek secara luas, yang menyangkut berbagai aspek : astronomi, agama, agraris, sosial-budaya, politis dan bisnis. 

Makna Agronomi 
Ada tiga sistem perhitungan kalender yang setidaknya kita kenal, yakni : solar, lunar dan lunisolar. Kalender solar atau matahari, didasari orbit bumi mengelilingi matahari selama ± 365,25 hari per tahun. Contohnya Kalender Masehi, Kalender Lunar atau bulan, didasari orbit bulan mengelilingi bumi selama ± 29,5 hari per bulan, atau 354 hari per tahun. Contohnya Kalender Hijriyah atau Islam. Itulah sebabnya 1 Muharram, Idul Fitri atau yang lainnya, selalu jatuh maju 11 hari disbanding tahun sebelumnya. 

Kalender Imlek, perhitungan hari per bulannya didasarkan pada edar bulan mengelilingi bumi, namun selisih 11,25 dengan sistem solar selama 19 tahun (19 x 11,25 hari, identik dengan 7 bulan) dikoreksi dengan menyisipkan 7 kali bulan ke-13 selama kurun waktu tersebut. Itulah sebabnya awal tahun penanggalan Imlek tidak maju terus seperti terjadi pada Kalender Hijriyah, namun selalu dalam kisaran 21 januari-19 Februari. 

Dengan menggabungkan kedua sistem solar dan lunar, atau lunisolar, maka Kalender Imlek bisa digunakan untuk menghitung bulan baru dan purnama, pasang surut air laut, pergantian musim, dan letak semu matahari terhadap sumbu bumi. 

Dari paparan di atas menjadi jelas bahwa Tahun Baru Imlek mempunyai makna astronomi, karena terkait dengan sistem tata surya, sistem penanggalan atau awal dari sebuah tahun baru, yang didasari sistem lunar (yinli, imlek) yang dipadu dengan system solar (yingli atau yanglek) atau sejatinya lebih pas disebut lunisolar (yinyangli atau imyanglek). 

Makna Agama 
Kalender YinYang Li atau Imlek diciptakan oleh Huang Di, yang merupakan nenek moyang orang Han (suku terbesar yang mendiami wilayah Tiongkok) dan sekaligus salah satu nabi utama dalam Ru Jiao (agama Khonghucu). Oleh karenanya banyak orang yang menamai Kalender Imlek sebagai Kalender Huang Di. 

Namun semasa Huang Di berkuasa, Kalender ini belum digunakan. Baru pada masa Dinasti Xia (2205-1766 SM) kalender tersebut digunakan, sehingga lazim disebut pula sebagai Kalender Xia. Setelah Xia runtuh diganti Dinasti Shang (1766-1122 SM), Dinasti Zhou (1122-256 SM) dan Dinasti Qin (256-202 SM), kalender tersebut tidak lagi digunakan dan diganti dengan kalender dari setiap dinasti baru yang berkuasa. 

Kalender Xia baru digunakan kembali setelah Kaisar keempat Dinasti Han yang bernama Han Wu Di memerintah. Pada tahun 104 SM, beliau menetapkan digunakannya kembali Kalender Dinasti Xia, mengacu pada sabda Nabi Kongzi yang tersurat pada Kitab Suci Si Shu, bagian Lun Yu, Bab XV, Pasal 11 ayat 2. Pada saat yang bersamaan Han Wu DI juga menetapkan Ru Jiao atau agama Khonghucu sebagai agama resmi negara. Untuk menghormati Nabi Kongzi, Han Wu Di menetapkan tahun pertama kalendernya dihitung sejak 551 SM, yang merupakan tahun kelahiran Nabi Kongzi. Itulah sebabnya Kalender Imlek 551 tahun lebih tua dari tahun Masehi. 

Dari paparan di atas jelaslah bahwa ada 4 (empat) tokoh penting yang berperan dalam penggunaan kalender Imlek, yaitu : Huang Di, Xia Yu (pendiri Dinasti Xia), Kongzi dan Han Wu Di. Ketiga tokoh pertama di atas adalah nabi-nabi dalam agama Khonghucu, sedangkan Han Wu Di, adalah Kaisar pertama yang menetapkan Ru Jiao (agama Khonghucu) sebagai agama Negara. Maka jelaslah Kalender Imlek terkait erat dengan Ru Jiao atau agama Khonghucu. 

Kalau kita perhatikan ritual yang terkait dengan Tahun Baru Imlek yang dilakukan sejak seminggu sebelumnya (Hari Persaudaraan) sampai dengan dua minggu sesudahnya (Cap Go Meh), jelas tak bisa dibantah bahwa Tahun Baru Imlek adalah Hari Raya Agama Khonghucu. 

Makna Agraris 
Ketika Huang Di menciptakan penanggalan Imlek, ada dua hal penting yang menjadi dasar pertimbangannya. Pertama menjadi pendoman bagi upacara keagamaan (Ru Jiao), dimana pada setiap musim, dilakukan sembahyang besar yang dipimpin oleh kaisar sendiri. Yang kedua adalah dapat digunakan sebagai pedoman bagi awal bercocok tanam. Itulah sebabnya awal tahun barunya dijaga di antara tanggal 21 Januari hingga 19 Februari, yang masing-masing berkisar 14 hari dari tanggal 5 Februari yang merupakan titik tengah letak semu matahari antara 23,5 derajat lintang selatang dengan khatulistiwa atau batas musim dingin dan semi bagi wilayah di utara khatulistiwa. 

Hal di ataslah yang juga menjadi dasar bagi nasihat Nabi Kongzi kala menyarankan digunakannya kembali penanggalan Dinasti Xia atau yang kita kenal sekarang sebagai Penanggalan Imlek. Beliau sangat menekankan arti pentingnya kalender bagi kehidupan rakyat yang waktu itu sepenuhnya hidup dari pertanian. Kalender adalah pedoman bagi rakyat, bukan symbol legitimasi kekuasaan kaisar. Pada zaman itu, setiap kaisar atau dinasti baru muncul, sistem kalendernya selalu diganti, dihitung sejak kaisar tersebut berkuasa. Jelas hal ini membuat fungsi kalender sebagai pedoman bagi rakyat petani menjadi kabur, karena awal perhitungannya tidak lagi terkait dengan musim. 

Makna Sosial Budaya 
Sejarah Ru Jiao atau agama Khonghucu erat berhimpitan dengan sejarah bangsa Tionghoa. Dan ini terjadi dalam kurun waktu lama, tak terputus selama 5000 tahun lebih lamanya. Tak heran meski pun kini agama orang Tionghoa sudah beraneka ragam, tapi budaya dan sebagian tingkah lakunya terpengaruh kuat dengan Ru Jiao atau agama Khonghucu. Maka konsekuensinya, segala sesuatu yang dulu menjadi ranah agama, lama-lama diterima dan menjadi budaya yang mempengaruhi perilaku social orang per orang, diturunkan turun-menurun oleh orang tua. Salah satunya yang terkait dengan Tahun Baru Imlek. 

Hal yang sama menimpa masyarakat atau bangsa Jepang, Korea, Mongolia, Manchuria dan Vietnam. Meski bukan orang Tionghoa, karena terpengaruh ajaran agama Khonghucu, mereka juga merayakan Tahun Baru Imlek meski dengan nama berbeda. Oleh karena tidaklah tepat bila Imlek disebut sebagai hari raya budaya atau etnis. Apalagi Indonesia Imlek juga dirayakan oleh suku-suku lainnya, yang kebetulan menganut agama Khonghucu. Lagi pula, Xia Yu, sang pendiri Dinasti Xia, dinasti yang pertama kali menggunakan Kalender Imlek, sejatinya berasal dari etnis proto Melayu, nenek moyang bangsa Indonesia.

Makna Politis 
Sejak dahulu Imlek seolah menjadi barometer politik. Ketika Dinasti Xia runtuh pada 1766 SM, dinasti-dinasti sesudahnya tidak lagi menggunakan Kalender Imlek. Masing-masing dinasti sesudahnya punya kalender tersendiri. Baru setelah Han Wu Di dari dinasti Han menetapkan kembali penggunaannya dan menggunakan tahun kelahiran Nabi Kongzi sebagai acuan dasar, dinasti-dinasti sesudah Han tidak lagi menggunakan kalendernya sendiri. 

Di Indonesia, Imlek juga seakan menjadi barometer politik Negara pada agama Khonghucu dan masyarakat Tionghoa. Ketika awal merdeka Imlek pernah menjadi hari raya fakultatif. Kemudian harus dirayakan secara terbatas di lingkungan keluarga. Setelah reformasi ditetapkan sebagai Hari Raya Nasional. Mudah-mudahan ke depan politik diskriminasi hilang lenyap di Negara tercinta yang Bhinneka Tunggal Ika berdasarkan Pancasila ini. 

Makna Bisnis 
Kehidupan modern tidak lepas dari pengaruh bisnis dan teknologi. Setiap hari raya keagamaan kini tidak terbatas dirayakan oleh umatnya saja, namun juga dimanfaatkan banyak orang untuk kepentingan bisnis, mulai dari pariwisata, entertainment sampai perdagangan. Saat Idul Fitri (Islam), Natal (krn-kak) sampai Imlek (Khonghucu), mal-mal ramai berhias. Bisnis menggeliat, harga-harga melambung tinggi. Bukan mustahil suatu saat Nyepi (Hindu) dan Waisak (Buddha) juga dimanfaatkan untuk kepentingan bisnis. 

Dan kalau sudah demikian, maka kita tidak lagi bisa menbedakan suatu perayaan itu terkait agama, budaya atau apapun namanya. Semuanya berwajah bisnis, yang menjadi roh dunia modern. 

Lantas Maknanya Apa? 
Tak ada gunanya lagi memperdebatkan soal Imlek itu agama atau budaya. Sudah jelas rohnya adalah agama (Khonghucu). Namun kini ia tidak lagi menjadi monopoli umat Khonghucu, seperti halnya kita bersama menikmati Idul Fitri, Natal, Nyepi, Waisak dan lainnya sebagai Hari Kebersamaan umat manusia. Kita masih banyak membutuhkan hari-hari kebersamaan, agar wajah dunia tidak lagi tersekat-sekat secara eksklusif. Maka marilah kita jadikan Idul Fitri, Natal, Nyepi, Waisak, Imlek dan yang lain sebagai Hari Kebersamaan Umat Manusia, terlepas dari agama, ras, budaya dan atribut-atribut lainnya. 

Gong He Xin Xi, Wan Shi Ru Yi. Salam bahagia di tahun, berlaksa perkara sesuai harapan. Shanzai.

Tahun Baru Imlek : Perayaan Hari Raya Agama Atau Budaya?

Tahun Baru Imlek adalah Hari raya bagi umat Khonghucu; bukan klaim sepihak umat Khonghucu. Landasan keimanan Khonghucu berkaitan dengan hari raya ini terdapat dalam kitab suci Agama Khonghucu Kitab Sishu & Wujing. Perintah Agama Khonghucu menjelaskan bahwa terdapat rangkaian ritual keagamaan, baik sebelum dan setelah hingga 15 hari sesudah Tahun Baru Imlek.

Landasan filosofis maupun historis jelas dalam sejarah resmi Tiongkok bahwa zaman Dinasti Han (206 SM – 220 M) saat Rujiao (agama Khonghucu) menjadi agama negara, maka ditetapkan tahun baru Imlek sebagai hari raya, menggunakan penanggalan berdasarkan penghitungan tahun kelahiran Nabi Kongzi (Confusius; sebutan yang disematkan Matteo Ricci misionaris Katolik saat berada di Tiongkok).

Tahun Masehi 2019 + 551 SM (tahun kelahiran Kongzi) adalah hitungan tahun baru Imlek 2570, maka disebut pula 2570 Kongzili.

Penetapan penggunaan penghitungan tahun kelahiran Kongzi 551 SM dilakukan oleh Kaisar Han Wu Di pada tahun 104 SM.

Adapun masa pemerintahan Kaisar Han Wu Di (1 – 87 SM); jadi bukan baru ditetapkan di abad 19 seperti argumen beberapa pihak, melainkan sudah sejak ribuan tahun yang lalu.

Penanggalan Imlek adalah suatu sistem penanggalan yang sudah sangat tua umurnya, sekitar 4.700-an tahun yang lalu. Kaisar Huang Di yang hidup pada 2696 SM – 2598 SM adalah penggagas pertama penanggalan Imlek.

Huang Di dianggap sebagai ‘Bapak Tionghoa’ dengan sebutan Kaisar Kuning. Bagi umat Khonghucu (Rujiao) mengakuinya sebagai salah satu Nabi atau Raja Suci (dimana ulasan tersebut terdapat dalam Kitab Wujing).

Sistim penanggalan karya Huang Di ini kemudian diterapkan oleh Xia Yu, pendiri Dinasti pertama di Tiongkok menjadi penanggalan resmi Dinasti Xia (2205 SM-1766 SM).

Namun Dinasti kedua yakni Dinasti Shang (1766 SM-1122 SM) tidak menggunakan penanggalan Dinasti Xia tersebut dan menggunakan penanggalannya sendiri.

Saat Dinasti Shang diganti Dinasti Zhou (1122 SM-255 SM) juga tidak menggunakan penanggalan karya Huang Di tersebut. Ketika Dinasti Zhou tumbang dan diganti Dinasti Qin (255 SM-202 SM) mereka memakai penanggalan sendiri, yakni penanggalan Dinasti Qin.

Semasa hidupnya Nabi Kongzi, Khongcu, Confusius (551 SM-479 SM) yang hidup pada zaman Dinasti Zhou menyerukan agar memakai penanggalan Dinasti Xia yang merupakan karya besar Huang Di (ulasan tentang hal ini terdapat dalam Kitab Sishu & Wujing).

Nabi Kongzi melihat bahwa mayoritas rakyat Tiongkok saat itu mayoritas hidup dari pertanian. Maka penanggalan karya Huang Di yang dipergunakan Dinasti Xia adalah penanggalan yang tepat karena awal tahun baru jatuhnya pada musim semi.

Maka kelak penanggalan Imlek disebut juga penanggalan petani & tahun barunya disebut perayaan musim semi.

Namun seruan bijak Kongzi baru dilaksanakan pada masa Kaisar Han Wu Di di tahun 104 SM. Kaisar Han Wu Di (140 SM-86 SM) adalah Kaisar pada zaman Dinasti Han (206 SM – 220 M).

Beberapa referensi sejarah Tiongkok menjadi landasan historis mengenai hal ini.

Saat itu Rujiao (Kongjiao) sebutan agama Khonghucu menjadi agama negara (state religion). Kaisar Han Wu Di yang memakai kembali penanggalan Xia karya besar Huang Di kemudian menetapkan tahun kelahiran Kongzi 551 SM menjadi awal dasar penghitungan penanggalan Imlek; maka disebut pula penanggalan Kongzili.

Penghormatan terhadap Kongzi yang dilakukan Han Wu Di setara dengan penghitungan tahun kelahiran Jesus pada kalender yang disebut penanggalan Masehi serta Hijrahnya Nabi Muhammad dari Mekkah ke Medinah dihitung sebagai tahun pertama kalender Hijriah.

Tentu ulasan tentang hal ini bisa menimbulkan perdebatan. Tapi sebagai penulis, saya memakai banyak referensi sejarah dan kitab suci berdasarkan agama Khonghucu.

Jika kemudian konteks hari ini Tiongkok dengan kebijakan politik tidak mengatur tentang agama & tahun baru Imlek dirayakan semua pihak, bukan berarti menghapus sejarah & ritual keagamaan Khonghucu berkaitan dengan tahun baru Imlek.

Agama apapun tidak lepas dari konteks budaya dimana agama tersebut berkembang. Ada budaya yang dibawa maupun akulturasi dengan budaya setempat.

17 Januari 2019, PELAYANAN UPACARA KEDUKAAN MAJELIS AGAMA KHONGHUCU

Hari Kamis malam, 17 Januari 2019 tim pelayanan keagamaan Khonghucu bersama daoqin melakukan upacara sembahyang Moi Song, untuk Alm. GO KOK KHING ( Gunawan Ng ) papa dari Dq.  Himawan salah satu ketua kehormatan MATAKIN Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.

da zai qian yuan

wan wu zi shi

nai tong tian

Maha Besar Qian Khalik Yang Maha Sempurna
Berlaksa Benda Bermula Daripada Nya
Semua Kepada Tian YME

Sebagai salah satu wujud dari pelayanan keagamaan kepada umat Khonghucu, Majelis Agama memberikan pelayanan upacara doa kedukaan, dengan dihadiri oleh para Daoqin yang hamper berjumlah 30 orang, berkumpul di rumah duka kediaman Alm.  Go Kok Khing sekitar puku 5.30 sore, setelah dilakukan persiapan dan berkumpulkan keluarga Alm, upacara dimulai pukul 6.45 malam.

Upacara dipimpin oleh Js.  Sunarto, didampingi oleh Js.  Tjhin Muk Djie dan Dq.  Tjong Men Loy
Pembacaan surat doa Moi Song di depan Alm.  Go Kok Khing diikuti keluarga almarhum.
Rombongan pelayanan keagamaan yang rapi dengan seragam Ungu Tua ( warna khas Ru Jiao )

Kunjungan Kepala Pusat Bimbingan dan Pendidikan Konghucu Terkait Pembangunan Sekolah Tinggi Agama Konghucu

bkgi-Pangkalpinang, Kamis (27/12) Kakanwil Kemenag Provinsi Kepulauan Bangka Belitung menerima kunjungan Kepala Pusat Bimbingan dan Pendidikan Konghucu Kementerian Agama Drs. M. Mudhofir, M.Si. dalam rangka melakukan survey pendahuluan dan dalam rangka menggali informasi dan data sebagai bahan diskusi dengan stake holder terkait pembangunan sekolah tinggi agama Konghucu, sampai saat ini ada beberapa daerah yang juga sudah menawarkan atau mengajukan kesiapan pembangunannya. Untuk itu kita harus melihat kondisi obyektif, keseriusan daerah atau dukungannya, dan tentunya yang paling penting adalah komitmen daerah dalam membangun dan mengembangkannya.

Kakanwil terkait dengan permasalahan ini menyampaikan pada dasarnya apabila Bangka Belitung ditunjuk kita siap dan kita akan membahas dengan tokoh agama atau FKUB baik Provinsi maupun FKUB Kota Pangkalpinang sehingga nantinya tidak menjadi masalah dan dapat diterima oleh masyarakat  Bangka Belitung.

Ketua Matakin Babel Henri Kurniawan didampingi ketua Makin Pangkalpinang Wery menyampaikan bahwa kita telah mendapatkan beberapa lokasi tanah yang rencananya akan kita bangun kantor matakin sekaligus membangun klenteng ataupun pembangunan sekolah agama Konghucu dan semoga ini menjadi salah satu jawaban dalam memberikan pelayanan kepada umat konghucu.

Sementara itu Kapus menyampaikan bahwa terkait dengan pelayanan terhadap Konghucu itu ibarat naik perahu sambil memperbaiki rakit-rakitnya, dan ini sesungguhnya dialami oleh agama apapun. Kita harus memulai perbaikan dari aspek pendidikan dan satu-satunya jalan adalah kita harus membuat lembaga yang benar-benar konsen dalam melayani dan pembinaan umat, dan untuk itu kita harus bisa menyediakan guru agama Konghucu dan ini sudah kita sampaikan kepada Pak Sekjen dan Pak Menteri Agama. Langkah yang harus kita lakukan adalah pertama kita proses yuridis formal terkait izin dan pembangunan fisiknya, dan perangkatnya baik tenaga pendidikan maupun tenaga kependidikannya seperti dosennya bagaimana, mahasiswanya, kurikulumnya. Langkah awalnya kita harus bisa mendirikan sekolah tinggi agama Konghucu. 

Berangkat dari hal tersebut pada tahun 2019 ini kita mencoba untuk memulai menganggarkan pembangunan, namun dengan keterbatasan anggaran pemerintah, untuk itu disamping pemerintah yang berperan harus ada sinergi antara umat dan lembaga sosial keagamaan yang sama-sama berperan dalam menyikapinya.

Ada beberapa yang menjadi pertimbangan kita, opsinya ada lahan tanah kosong namun akan bisa lebih cepat bila adanya yayasan dari umat Konghucu yang bisa dialih statuskan ke negara, ulas Kapus. Pertemuan ini bertempat di ruang pertemuan gedung sekolah pembinaan, Pasir Putih, Pangkalpinang dengan dihadiri oleh Ketua Matakin Bangka Belitung, Ketua Makin Pangkalpinang dan Sekretaris Matakin Chandra Setiawan, Kasubag Tata Usaha Pusdindik Kementerian agama Bapak Asto, Kasubbag Hukum dan KUB Sugiyo. (TAN)

KEGIATAN BADAN PENGURUS MATAKIN PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

13 JANUARI 2019, Pukul 09.00 WIB

Kunjungan ke MAKIN LITANG MENGANTAR KEBAHAGIAAN / KELENTENG NAM HOI KUNG MIAO, Tanjung Ular, Kabupaten Bangka Barat.

Penyampaian Program MATAKIN Babel periode 2019-2023, kepada pengurus dan umat Khonghucu yang ada di Makin Tanjung Ular.

Ketua MATAKIN Bangka Belitung terpilih, Dq.  Henry Kurniawan ( AHiun ) sedang menyampaikan program MATAKIN ke depannya.
Umat Khonghucu Makin Tanjung Ular yang turut menyambut kunjungan MATAKIN Babel, di Litang Pengantar Kebahagiaan.
Salah satu menu khas Makan siang yang disajikan oleh Ibu-ibu PERKHIN Tanjung Ular.

Sekitar pukul 14.30 WIB sampailah tim MATAKIN Babel di titik kunjungan ke-2 yaitu Kelenteng FUK TET CHE – Pelangas Bangka Barat

Tampak depan kelenteng FUK TET CHE – Pelangas Bangka Barat
Tim Matakin disambut oleh beberapa pengurus Kelenteng, dan beberapa tokoh pemuda Pelangas.

Dalam pertemuan tersebut membicarakan rencana pembentukan Makin Pelangas, serta dialog tentang persyaratan-persyaratan yang dibutuhkan dalam pembentukan Makinn tersebut. Disampaikan juga keingingan dari para pengurus setempat untuk dapat mengembangkan pendidikan bahasa Mandarin kedepannya.

Sekitar Pukul 15.00 WIB sampailah Tim Matakin Babel di Kecamatan Parit Tiga Jebus, Bangka Barat.

Dalam pertemuan tersebut dibicarakan tentang pembentukan kembali MAKIN Parit Tiga Jebus yang sudah habis masa kepengurusannya, MAKIN PARIT TIGA Jebus sudah sepakat untuk menunjuk Dq.  Hermanto sebagai Ketua Makin Parit Tiga – Jebus periode 2019-2023.

Kunjungan ke-4 ke kelenteng Fuk Tet Che – Kelabat – Jebus

Jam sudah menunjukkan pukul 18.00 , Rombongan Ketua Matakin baru tiba di kelenteng Fuk Tet Che, Kelabat Jebus . Setelah melakukan sembahyang di kelenteng, akhirnya Pengurus Kelenteng tiba dan berdialog singkat mengingat waktu yang sudah mulai malam.

Rombongan tiba kembali ke kota Pangkalpinang pada pukul 21.30 WIB .

Kunjungan Bapak Ketua MATAKIN Prov. Kep. Bangka Belitung Periode 2019-2023

6 Januari 2019, Kunjungan BP MATAKIN 2019-2023

Berangkat dari Pangkalpinang, sejumlah 7 orang, rombongan kecil Bapak Pengurus Matakin Babel memulai perjalanan kunjungan ke beberapa Makin, dimulai dari MAKIN MERAWANG

Pembangunan litang di Kecamatan Merawang yang masih dalam tahap penyelesaian.
Rombongan Matakin babel diterima oleh Ketua Makin Merawang ( Dq.  Suhandi / Ko Ahian ), Wakil Ketua Dq.  Kim Ngiung, dan Sekretaris  Js.  Jhoni Priadi
Penyerahan bantuan pembangunan Litang Merawang, oleh Dq.  Bun Muk Hon mewakili pengurus Matakin Babel Periode 2014-2018
Turut serta penyerahan bantuan pembangunan Litang oleh Dq.  Wery Chin 
mewaliki Makin Pangkalpinang

Kunjungan selanjutnya ke MAKIN BELINYU, diterima oleh beberapa pengurus kelenteng, tokoh masyarakat Pit Jun dan Js.  Tjong Khioen Fo.

Kelenteng Kuto Panji – Belinyu
Quan Yin Nyong-Nyong

Dalam pertemuan tersebut dikenalkan beberapa pengurus Matakin Provinsi Bangka Belitung yang baru, dan penyampaian beberapa program mercusuar Matakin.

Para Daoqin dari Belinyu mendukung penuh pengembangan agama Khonghucu di Bangka Belitung, dan siap mendukung kegiatan Keagamaan.

Dalam kesempatan yang sama juga diupayakan penyusunan kembali susunan pengurus MAKIN Belinyu yang sudah habis masa kepengurusannya, dan Dq.  Pit Jun bersedia memfasilitasi dan mendukung pembentukan kepengurusan Makin Belinyu.

Melihat lokasi kelenteng yang sangat indah dan didukung dengan kolam besar didepan kawasan kelentengm dilakukan penjajakan pelaksanaan sembahyang Twan Yang Bangka Belitung di Kelenteng Kuto Panji Belinyu.

Selepas dari Belinyu, Rombongan Matakin menuju Ke Pemali, waktu sudah menunjukkan pukul 7 malam.  Ternyata pada hari yang sama Litang Amal Utama Pemali sedang mengadakan Kebaktian, karena bertepatan dengan Che It.  Walaupun sudah menunjukan pukul 8 lewat, tapi para Daoqin di Litang Amal Utama masih ramai.

Rombongan diterima oleh Pak Sunoto ( anggota dewan penasehat Matakin Provinsi Bangka Belitung ), Pejabat Ketua Makin Sungailiat ( Js.  Tjoe Kiat ), Js.  Mok Piang Leung, Dq.  Teristin, Dq.  Ahon, Wakin Sungailiat dsbnya.

Disampaikan rencana peresmian Litang Amal Utama Pemali oleh Ketua Harian Matakin Pusat pada tanggal 14 Februar2019, dan rencana kunjungan Ketua Harian Matakin ke Makin-Makin daerah.

Pangkalpinang – Merawang
Merawang – Belinyu
Belinyu – Pemali
Pemali – Pangkalpinang