Musyawarah Daerah II, Matakin Prov. Kep. Bangka Belitung 2 Desember 2018, Hotel Mitra Pangkalpinang.

Hari Minggu, 2 Desember 2018 bertempat di Meeting Room Hotel Mitra, Jl.  Mentok Pangkalpinang pukul 9.00 WIB dilangsungkan MUSDA II MATAKIN Provinsi Bangka Belitung.

MUSDA dihadiri oleh beberapa pengurus MATAKIN dan MAKIN Daerah diantaranya MAKIN Trubus, MAKIN Benteng, MAKIN Toboali, MAKIN Pangkalpinang, MAKIN Sungailiat, MAKIN Belinyu, MAKIN Tanjung Ular, MAKIN Koba, MAKiN Belitung Timur serta 1 KAKIN dari wilayah Sungailiat.

MUSDA dipimpin oleh Dq,  Bun Muk Hon dibantu oleh Js. Ngiat Hiung dan Js.  Poderi, sedangkan Kepengurusan MATAKIN  demisioner diwakili oleh Sekretaris Umum Dq.  Suryanto Tjandra, SH.

TEMA dari MUSDA II MATAKIN PROV. BABEL ini adalah “ JADIKAN DIRIMU PELOPOR DALAM BERJERIH PAYAH, MELAKSANAKAN TUGAS PANTANG MERASA CAPAI” ( Lunyu XIII:1)

(ki-ka: Js.  Poderi, Js.  Taufik Salim, Dq.  Suryanto Tjandra, Dq.  Bun Muk Hon )
Doa dipimpin oleh Js.  Mok Piang Leung
Laporan pertanggung jawaban pengurus MATAKIN Provinsi Bangka Belitung Periode 2014-2018 diwakili oleh Sekretaris Umum
Dq.  Suryanto Tjandra.
Peserta Musda II Matakin Provinsi Bangka Belitung, yang juga dihadiri oleh Penasehat MATAKIN Provinsi Bangka Belitung Bapak Sunoto, Bapak Junaidi Surya, dan Bapak Subiarto.
Foto bersama MUSDA II MATAKIN Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. 2 Desember 2018.

Dalam musyawarah tersebut secara aklamasi seluruh peserta MUSDA II memilih dan mengusulkan saudara Henry Kurniawan ( KOK WEN PING ) sebagai Ketua Umum Matakin Provinsi Bangka Belitung untuk periode 2018-2022.

Bpk. Henry Kurniawan ( KOK WEN PING ) terpilih sebagai Ketua Umum Matakin Provinsi Bangka Belitung untuk periode 2018-2022.

Umat Khonghucu di Bangka Belitung Rayakan Tradisi Duan Wu Jie

MASYARAKAT Tionghoa di Bangka Belitung (Babel) hari ini menggelar tradisi festival chinese Duan Wu Jie atau yang lebih dikenal sebagai Hari Raya Peh Cun atau Dragon Boat yang merupakan hari raya tradisional bangsa Tionghoa.

Festival Duan Wu Jie biasa jatuh pada tanggal 5 bulan 5 suatu penanggalan Imlek yang merupakan salah satu festival penting dalam budaya dan tradisi Tionghoa

(foto: Arsan Mailanto/Okezone)

Pantauan Okezone, perayaan tradisi festival Duan Wu tersebut diiringi dengan beberapa kegiatan perayaan seperti Barongsai, Perahu Naga (Dragon Boat), makanan khusus festival Duan Wu yaitu Bak Cang, dan air suci berkah bagi umat Khonghucu.

Ketua Majelis Tinggi Agama Khonghucu (Matakin) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Tjhia Tet Hian mengatakan, dalam perayaan Duan Wu Jie ini marilah bersama-sama jadikan umat Khonghucu yang tidak hanya bermanfaat buat diri sendiri akan tetapi dapat juga bermanfaat bagi sesama umat lainnya.

“Untuk itu marilah seluruh umat Khonghucu Bangka Belitung, mari kita pelopori kehidupan yang harmonis, saling menghormati, menghargai antara sesama anak bangsa. Kita wujudkan cita-cita akan sesuatu kedamaian yang agung dalam kehidupan ini,” ujarnya di Kelenteng Dewi Laut Komplek Tanjung Bunga, Pangkalpinang Bangka.

Sementara Gubernur Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Erzaldi Rosman Djohan menyampaikan acara ini sebagai bentuk pengabdian umat Khonghucu, kebudayaan khususnya pada hari ini dirayakan di Kelenteng Dewi Laut, Tanjung Bunga, Pangkalpinang.

“Saya sangat senang khususnya di dalam kebhinekaan kita pada hari ini, begitu juga banyak kegiatan keagamaan yang kita lakukan mulai dari Kenaikan Isa Almasih, Waisak, dan hari ini pelaksanaan Duan Wu Jie yang sekaligus umat Islam melaksanakan bulan puasa Ramadan,” ungkapnya.

“Kebhinekaan ini berkah untuk kita semua dan harus kita jaga. Saya yakin kebhinekaan kita di Babel adalah yang terbaik di Indonesia, maksud dari terbaik ini menjadi tantangan kita menjaga bersama-sama,” sambungnya.

(foto: Arsan Mailanto/Okezone)

Tak hanya itu, Erzaldi juga mengingatkan jangan kebhinekaan ini yang sudah terjadi aman dan sentosa ini terganggu dengan hal yang tidak-tidak. Terlebih terganggu dengan masalah media sosial, jangan terlalu cepat mengambil kesimpulan kepada semua romo-romo, pendeta, dan matakin yang hadir di sini.

“Tolong bawa umat ke arah yang benar dan sampaikan. Yang terpenting adalah kita menjaga kebhinekaan ini dan kita bebas menjaga ibadah kita sesuai kepercayaan dan agama kita masing-masing tanpa mengganggu agama yang lain. Jika prinsip ini kita jaga, saya yakin negara kita akan aman, sejahtera, dan terus hidup hingga akhir zaman,” tegasnya.

Dilain kesempatan tokoh masyarakat Umat Khonghucu Tionghoa, Hermanto Aliong menambahkan, tradisi Duan Wu Jie ini sangat bagus, apalagi ini seni budaya dengan masyarakat umat Khonghucu. Jadi ini akan mengenang suatu jiwa kepatriotan dari sastrawan perdana menteri di jaman Ting dulu tokoh patriot bernama Qu Yuan.

“Jadi kepatriotan dari Qu Yuan ini diabadikan masyarakat kita, karena beliau orang yang teguh dengan pendiriannya dan menjadi panutan masyarakat pada masanya,” tuturnya.

“Harapan saya dari bapak Hary Tanoe yang turut juga berpartisipasi dalam kegiatan acara tradisi Duan Wu Jie ini mungkin akan lebih baik lagi. Dengan merangkul seluruh elemen masyarakat, agar ke depannya bisa dijadikan sebagai sistem pariwisata khususnya untuk Bangka Belitung, sebab ini sangat penting demi kemajuan daerah kita juga sendiri kalau acara ini dibuat secara nasional,” harap Hermanto.

Diketahui dalam perayaan festival kebudayaan Duan Wu Jie kali ini dihadiri oleh Gubernur Bangka Belitung (Babel) Erzaldi Rosman Djohan, Perwakilan Kapolda Babel, Ketua Umum Majelis Tinggi Agama Khonghucu (Matakin) Indonesia Pusat Uung Sendana, tokoh masyarakat Khonghucu, dan masyarakat Khonghucu Babel.

(fid)