PANDEMI BERLALU KHONGHUCU MELAJU

Pangkalpinang, 25 Desember 2021

Hari ini adalah Hari Natal, hari lahir Juru Selamat bagi saudara-saudara kita yang beragama  Kristen dan Katolik, momen ini memberikan kesempatan bagi kami untuk menulis kunjungan  Ketua Umum Dewan Rohaniwan / Pimpinan Pusat MATAKIN, Xs.  Ir.  Budi Santoso Tanuwibowo, MM, Ketua Harian Dewan Rohaniwan MATAKIN, Ws.  Budi Suniarto, SE, MBA bersama istri yang selalu setia mendampingi kunjungan beliau dalam menjalankan tugas kebajikan pada tanggal 12 – 15 Desember 2021 di Bangka.

Kedatangan 2 ( dua ) orang merupakan pucuk pimpinan tertinggi dari Lembaga Agama Khonghucu di Indonesia  ini dalam rangka melakukan Liyuan Rohaniwan / Pentahbisan Rohaniwan.

Minggu, 12 Januari 2021

Jadwal yang sempat tertunda 2 ( dua ) hari ini sama sekali tidak mengurangi semangat para pengurus MATAKIN BABEL untuk memberikan pelayanan terbaik bagi tamu agung yang satu berasal dari Jakarta dan satu lagi berasal dari Purwokerto.  Kedatangan pada Minggu pagi pukul 8.30 WIB tiba di Bandara Depati Amir – Pangkalpinang, disambut dengan tawa dan canda selayaknya kawan datang dari jauh, bukankah itu membahagiakan?

Setelah diajak keliling dan berhenti sebentar di lahan rencana pembangunan sekretariat MATAKIN BABEL, rombongan diajak makan pagi khas Bangka yaitu Jam Mien dan Theu Fu Kok.

Mengunjungi lokasi untuk rencana pembangunan sekretariat MATAKIN BABEL

Selesai sarapan jam mien dan theu fu kok, rombongan pun menuju ke lokasi Makin yang baru dibentuk, yaitu MAKIN Desa Jeruk. Di lokasi sudah menunggu para pengurus Litang dan beberapa warga yang menyempatkan diri.

Seusai menyampaikan pesan dan kesan serta mendengarkan saran dan pendapat dari pengurus Makin Desa Jeruk, rombongan pun segera menuju Litang Cahaya Kebajikan yang merupakan binaan MAKIN Benteng, Kabupaten Bangka tengah.

Dengan jarak tempuh kurang lebih 20 menit pun sampailah rombongan di Litang Cahaya Kebajikan, ternyata disana sudah banyak yang menunggu dan yang membuat kami bahagia adalah melihat yang hadir lebih banyak muda mudinya, dan ini tentunya merupakan sebuah aset bagi lembaga untuk dapat terus tumbuh dan berkembang.

Lokasi Litang Cahaya Kebajikan, MAKIN BENTENG, Kab. Bangka Tengah.

Rombongan pun disajikan bermacam kue dan makanan khas Bangka, dan Ketum sangat tertarik dengan makanan Theu Fu Cau, yaitu tahu goreng yang dibelah dan dikasih sambel tauco.

Hari semakin siang karena masih banyak agenda yang masih harus dilaksanakan, maka rombongan pun berangkat sesuai dengan jadwal kunjungan yang telah disusun sebelumnya.

Kami mengunjungi salah satu daoqin yang wafat beberapa minggu yang lalu, almarhum Dq.  Pendy Budiman yang akrab dipanggil Ko Phin yang merupakan Ketua RT, beliau meninggal karena jatuh di kamar mandi dan terbentur hingga tidak tertolong lagi, kesedihan masih meliputi keluarga yang ditinggalkan, foto almarhum pun diletakkan tepat ditengah ruang. 

Sepengetahuan kami, almarhum pernah menjabat sebagai Sekretaris MAKIN Pangkalpinang dan termasuk keluarga yang rajin ke litang untuk ikut kebaktian setiap minggunya.  Namun ditengah kedukaan, sang Istri menceritakan bagaimana kedua putrinya yang tinggal di Jakarta dapat pulang tepat waktu saat meninggalnya almarhum.

Diceritakan bahwa dengan waktu yang tidak kurang dari 1 jam keberangkatan pesawat di bandara Jakarta yang sedang sangat macet saat itu, ada seorang ibu yang rela mengantarkannya ke bandara dengan motor bahkan siap ditilang karena membonceng penumpang tanpa helm meski diingatkan oleh gojek lainya. Sang ibu tetap bersikukuh untuk menolong mengantar ke bandara sesegera mungkin. Dalam kondisi yang mendesak pun hanya dapat mengetahui nama ibu itu ENDANG. 

Istri almarhum yakin ini adalah bagian dari kebajikan yang selama ini mereka lakukan berkenan kepada Tian, meski dalam suasana duka terlihat keyakinan dari mata mereka bahwa kebajikan itu nyata adanya.  SHANZAI.

Lokasi kediaman alm. Pendy Budiman

Kemudian tak jauh dari lokasi itu, kami berkunjung ke rumah salah satu rohaniwan bernama Js. Sunarto, yang juga berasal  dari MAKIN Pangkalpinang. Karena sudah lebih dari 6 bulan terakhir Js.  Sunarto tidak dapat melaksanakan tugas pelayanan karena sakit. Di leher beliau tumbuh seperti gondok dan kesulitan untuk makan dan berbicara. Dengan pimpinan Ws.  Budi Suniarto, kami bersama-sama mendoakan Js. Sunarto agar segera dipulihkan kesehatannya dan kemudian dapat melanjutkan pelayanannya bagi umat Khonghucu di Kota Pangkalpinang ini.

Lokasi kediaman Js. Sunarto

Rombongan kemudian melakukan check-in di Hotel FOX HARRIS, namun hanya minta kepada petugas agar memasukkan tas ke ruangan saja, karena Ws.  Budi Suniarto sudah sangat rindu untuk segera dapat ngopi di tempat favoritnya… KOPI ALIUNG.

Rombongan kembali beristirahat di hotel sebentar menunggu sesi acara Liyuan Rohaniwan di Ru Hui Litang, Makin Pangkalpinang, yang dilaksanakan pada pukul 19.00 WIB, dimulai dengan acara makan malam bersama pukul 17.00 WIB.

Tepat pukul 19.00 WIB, di Ruhui Litang pun dilakukan kebaktian khusus untuk penganugrahan Zhang Lao  bagi Js. Taufik Salim dan Dq. Henry Kurniawan ( Ketua Matakin Babel ), serta Liyuan Rohaniwan Jiao Sheng 教生 yang diikuti oleh Dq.  Tham Muk Lie ( Makin Pangkalpinang ),  Dq.  Bong Siong Djauw ( Makin Pangkalpinang ),  Dq.  Tjhia Mie Mie ( Makin Koba ) serta Dq. Min Jung ( Makin Sungailiat ).  Upacara ini langsung dipimpin oleh Ketua Harian Matakin Pusat, Ws.  Budi Suniarto, SE, MBA.

Foto bersama di Ruhui Litang Makin Pangkalpinang

Dalam acara kebaktian khusus ini, khotbah pengantar langsung disampaikan oleh Ketua Umum Dewan Rohaniwan / Pimpinan Matakin Pusat, Xs.  Budi Santoso Tanuwibowo,

Khotbah pengantar kebaktian khusus oleh Xs.  Budi Santoso Tanuwibowo
Pendamping upacara, Js.  Bun Muk Hon dan Js.  Ngiat Hiung
Zhang Lao Taufik Salim
Zhang Lao Henry Kurniawan
Insert foto dari kiri ke kanan : Dq. Min Jung, Dq.  Tham Muk Lie, Dq.  Bong Siong Djauw, Dq.  Tjhia Mie Mie
Pengambilan Sumpah Calon Rohaniwan yang didampingi oleh Rohaniwan Senior
Penyematan Hung Ling Tai oleh Istri Js.  Tham Muk Lie
Penyematan Hung Ling Tai oleh Dq.  Ai Hua kepada Js.  Tjhia Mie Mie
Penyematan Hung Ling Tai oleh Istri Js.  Bong Siong Djauw
Penyematan Hung Ling Tai oleh Js.  Mok Piang Lioeng kepada Js. Min Jung

Pada kesempatan ini juga kami mengambil momen ini untuk melakukan rekonsiliasi atau merangkul kembali semua pihak yang selama ini yang mungkin kurang harmonis, diantaranya mengembalikan tupoksi ( tugas pokok dan fungsi ) dari Ws.  Halim Setiawan dari Makin Sungailiat agar kembali bergabung dalam organisasi dan membantu Matakin Provinsi Kepulauan Bangka Belitung untuk mengembangkan Agama Khonghucu. 

Beliau melakukan san gui jiu gou di depan altar Nabi dan berjanji untuk melakukan tugasnya, bahkan dengan mengorbankan jiwa raganya, ia siap untuk terus melakukan pelayanan Agama Khonghucu bagi seluruh umat baik di Sungailiat ataupun di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung ini. Shanzai.

Ws.  Halim Setiawan ( NUR B1.044.142.2007.12.2007 )

Selamat kami ucapkan kepada:

  • ZL. Taufik Salim
  • ZL. Henry Kurniawan
  • Js.  Tham Muk Lie
  • Js.  Bong Siong Djauw
  • Js.  Min Jung
  • Js.  Tjhia Mie Mie
  • Ws. Halim Setiawan

Xie Tian Zhi En, semoga Tian berkenan atas kebajikan para ZL, Ws dan Js untuk menjadi pelayan kebajikan demi pengembangan agama leluhur kita, Shanzai.

Senin, 13 Desember 2021

Dengan ditemani oleh Dq.  Hermanto Phoeng, SH, MH yang pada hari ini bersedia menjadi supir dan ajudan bagi rombongan Matakin untuk mengunjungi Makin-Makin di Kabupaten Bangka Barat. Perjalanan dimulai sekitar pukul 06.30 pagi, yang didahului dengan penjemputan rombongan Matakin, kemudian dilanjutkan dengan makan bubur spesial dan ngopi sebentar di warung kopi Aliung.

Perjalanan ke kabupaten Bangka Barat ini memakan waktu cukup lama sekitar 2 jam lebih. Pertama-tama kami menyempatkan diri untuk mengunjungi MAKIN Pelangas, kecamatan Simpang Teritip, dan bertemu dengan Ketua Makin ( Dq. Ferry Cun Cun / Den Den ) dan kawan kawan, Perbincangan ringan dilakukan tentang bagaimana menata Makin Pelangas yang baru dibentuk ini agar dapat memberikan pelayanan kepada umat Khonghucu di wilayah Pelangas ini.

Kelenteng Fuk Tet Che – Pelangas
Penyerahan  handbook uraian jabatan keagamaan/kerohanian dan pedoman tata cara pemilihan, pengangkatan dan pembekalan Rohaniwan Khonghucu
Penyerahan MP3-jing, yang berisikan kidung pujian Shang Sheng Jing, Wei De Dong Tian, Tian Bao dan Yan Mu Zhen Jing
Mp3 Jing Ru Jiao – Khonghucu

Setelah itu rombongan mengunjungi cagar budaya Rumah Mayao ( Mayor ) di kota Mentok, kabupaten Bangka Barat.

Ketua Dewan Rohaniwan / Pimpinan Pusat MATAKIN mengisi daftar kunjungan di cagar budaya rumah Mayao

Berikut dibawah ini fofo-foto di Rumah Mayao:

XS.  BST menjadi Mayor Titular Chineezen Muntok
Isi kamar tua di Rumah Mayao. Rombongan diperkenankan 5 menit untuk menyaksikan ruangan yang sudah lama terkunci dan tertutup untuk umum

Saat itu sudah hampir menunjukkan pukul 12.00 siang, namun sesuai rencana rombongan masih ada satu kunjungan lagi di kota Mentok ini, yaitu Kelentung Kong Fuk Miao yang sudah sangat tua usianya. 

Seingat saya, sewaktu saya berumur 4 tahun sampai 8 tahun, karena papa saya berasal dari kota Muntok, maka setiap perayaan Chin Min ( Ching Ming ) kami selalu menyempatkan pulang ke kota Muntok untuk sembahyang leluhur, dan salah satu agenda yang tidak pernah kami tinggalkan adalah bersembahyang di kelenteng Kong Fuk Miao, jadi kira-kira 40 tahun yang lalu kami sudah mengenal kelenteng yang berada di pasar dan pelabuhan ini.

Kunjungan kali ini di kelenteng Kong Fuk Miao yang telah dimasukkan sebagai cagar budaya ini,  kami disambut oleh petugas cagar budaya  yang ditunjuk oleh pemerintah yaitu Ibu Paularita Mie Wien, yang sangat bersemangat dengan kunjungan kami dari Matakin dan kami pun sedikit terkejut melihat ada papan tulis di depan kelenteng yang ternyata selama ini kelenteng telah memberikan pembelajaran Agama Khonghucu bagi pelajar-pelajar di Kota Muntok ini.

Papan tulis di depan kelenteng Kong Fuk Miao yang bertuliskan Pendidikan Agama Khonghucu dan Budi Pekerti

Rombongan pun terlibat pembicaraan yang menarik tentang bagaimana kedepannya agar dapat memberikan pelayanan yang baik bagi umat Khonghucu di kota Muntok ini, Matakin berjanji untuk memberikan bahan-bahan pembelajaran dan dukungan pembentukan MAKIN Muntok agar mudah dalam koordinasi dan administrasi pelayanan kedepannya.

Xs.  Budi Santoso Tanuwibowo , Paularita, dan Dq.  Hermanto Phoeng
Ws.  Budi Suniarto, Xs.  Budi Santoto Tanuwibowo, Ny. Yennie, Paularita, ZL.  Henry Kurniawan, dan Wery Chin

Setelah membahas sedikit panjang lebih, rombongan mohon ijin untuk mengunjungi MAKIN Tanjung Ular yang schedulenya  memang sudah menunggu kami disana.  Setibanya disana memang sudah lewat jam makan siang, maka rombongan pun segera diajak makan siang ala Makin Tanjung Ular yang diketuai oleh Js.  Amjan,

Namun sebelum menuju lokasi Makin Tanjung Ular kami menyempatkan diri ke lahan yang akan dihibahkan untuk membangun Kong Miao, yang di-inisiasikan oleh Dq.  Hermanto Phoeng, seluas kurang lebih 3.000 m2, dengan lokasi menghadap ke pelabuhan tanjung kalian dan dibelakang adalah siluet gunung menumbing,

Lokasi lahan di tanjung kalian Muntok yang akan dihibahkan untuk pembangunan Kelenteng Kong Miao
Makan siang rombongan di Litang Makin Tanjung Ular, Kab.  Bangka Barat
Sambutan Ketua umum Dewan Rohaniwan Matakin Xs.  Budi Santoso Tanuwibowo di Litang Makin Tanjung Ular
Penjelasan dan penyerahan  Buku Uraian Jabatan Keagamaan / Kerohanian dan Pedoman Tata Cara Pemilihan, Pengangkatan dan Pembekalan Rohaniwan Khonghucu
Pengenalan calon rohaniwan baru dari Makin Tanjung Ular, Dq.  Herwan dan Dq.  Muk Sung

Setelah berfoto ria dan bercanda akhirnya rombongan mohon ijin untuk melanjutkan perjalanan ke Pesanggrahan Menumbing, yang merupakan tempat pengasingan Bung Karno dan Bung Hatta pada tahun 1948.  Namun sayangnya kunjungan kali ini bangunan bersejarah itu sedang dalam proses rehab sehingga terbatas untuk masuk kedalam bangunan.

Xs.  BST berfoto disamping patung Bung Hatta
Mobil antik peninggalan Pesanggrahan Menumbing BN 10

Waktu sudah hampir memasuki sore hari, dan masih ada satu kunjungan penting lagi yaitu ke Makin Parittiga -Jebus, dimana disana ada Js. Heryanto yang ditugaskan oleh Matakin Pusat untuk mendidik dan mengembangkan ajaran agama Khonghucu di Parittiga, Jebus.

Perjalanan membutuhkan waktu lebih dari satu jam dari lokasi terakhir menuju Kelenteng Bakti yang sebelahnya terdapat Litang dan Kantor Makin Parittiga Jebus.  Disana rombongan disambut oleh pelajar-pelajar dan Ws.  Budi Suniarto pun melakukan tanya jawab seputar pelajaran agama Khonghucu disana, dan ternyata anak-anak didik Js.  Heryanto pintar-pintar.

Foto-foto audiensi di Litang Makin Parit Tiga Jebus, Kab. Bangka Barat:

Pemberian hadiah MP3-Jing kepada dua pelajar yang cerdas menjawab pertanyaan-pertanyaan tentang agama Khonghucu yang mereka pelajari

Setelah acara di Litang Makin Parittiga, kamipun diundang makan malam di sebuah restoran yang cukup jauh perjalanannya, restoran seafood dengan view kapal hisap timah yang sedang beroperasi mengawal kami mengisi perut yang sudah waktunya untuk diisi. Tanpa banyak diskusi selesai makan kamipun berencana balik ke Pangkalpinang, namun kami diajak mengunjungi Kelenteng Fuk Tet Che, kurang lebih 10 menit perjalanan dari tempat kami makan malam.

Akhirnya perjalanan yang kami mulai pada pukul 06.30 pagi dapat tiba kembali dengan selamat di Pangkalpinang hampir jam 23.00 WIB. XTZE.

Selasa, 14 Desember 2021

Sesuai dengan schedule acara yang sudah ditentukan sebelumnya hari ini adalah audiensi dengan Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Kepulauan Bangka Belitung ( Ka Kanwil Kemenag Prov Kep. Babel ) di kantor Kementerian Agama Provinsi Kepulauan Bangka Belitung pada pukul 07.30 WIB.

Rombongan dari Matakin : Xs.  Budi Santoso Tanuwibowo, Ws.  Budi Suniarto,  ZL.  Henry Kurniawan, Wery Chin, Js.  Bun Mun Hon, Js. Jhony Priadi, Js.  Suryanto Tjandra dan ibu Yennie. Sedangkan dari Kanwil Kemenag hadir Kepala Kanwil Kemenag Provinsi Kepulauan Bangka Belitung,  Bapak Drs. H.  Tumiran Ganefo, MH, Bapak Drs.  H. Rebuan, M.Pd.I  ( Kabag TU Kemenag Provinsi), Kepala Pembimas Khonghucu, Bapak Sugiyo, S.I.P, M.Si,  Novita Sari, S.Pd., Pembimas Islam, Pembimas Kristen, Pembimas Katolik, Pembimas Buddha dan Pembimas Hindu.

Lokasi ruang rapat Ka Kanwil Kemenag Provinsi Kep.  Bangka Belitung
Insert foto, senyuman dan tawa dibalik masker Ka Kanwil dan Ketua Deroh MATAKIN
Foto bersama dan pemberian buku AGAMA di Bangka Belitung

Setelah selesai audiensi dengan Bapak Tumiran Ganefo dan staff, rombongan Matakin kembali ke jadwal kunjungan selanjutnya ke arah selatan dari pulau Bangka ini. Perjalanan ini dikawal oleh Js.  Jhony Priadi, Js.  Suryanto Tjandra, SH, dan Js.  Ngiat Hiung.

Berikut lampiran foto-foto:

Lokasi Danau Kaolin di Kabupaten Bangka Tengah
Cinta bersemi di Danau Kaolin
Karunia Tian yang luar biasa indah, Danau Kaolin dengan dua warna; hijau dan biru
Js.  Jhony Priadi
Js.  Suryanto Tjandra, SH

Lanjut kunjungan di Batu Belimbing, Toboali, Bangka Selatan

Lomba mengangkat batu
Js.  Suryanto Tjandra, Xs.  BST, Js. Ngiat Hiung ( Seperti menggandeng Gur Dur )
Xs.  Ir.  Budi Santoso Tanuwibowo, MM
Ws.  Budi Suniarto, SE, MBA
2 ( dua ) tokoh Nasional MATAKIN
ZL.  Henry Kurniawan ( Ketua MATAKIN Provinsi Kepulauan Bangka Belitung )

Lanjut kunjungan ke MAKIN KOBA, Kabupaten Bangka Tengah

Penyerahan bantuan dalam rangka pelaksanaan program pendaftaran online liyuan pernikahan
Penyerahan MP3-Jing, dan hand book Uraian Jabatan keagamaan/kerohanian dan pedoman tata cara pemilihan, pengangkatan & pembekalan Rohaniwan Khonghucu.
Litang Makin Trubus
Rombongan dari MAKIN SUNGAILIAT yang turut berpartisipasi dalam kebaktian bersama di Litang Makin Trubus
Sambutan Ketua Umum Dewan Rohaniwan MATAKIN di Litang Makin Trubus

Dengan berakhirnya kebaktian di Litang Makin Trubus, rombongan kembali ke Pangkalpinang untuk istirahat, waktu telah menunjukkan pk 01.00 pagi saat tiba di Pangkalpinang.

Rabu, 15 Desember 2021

Merupakan hari terakhir jadwal kunjungan rombongan MATAKIN Pusat di pulau Bangka, dikarenakan Ketua dan Wakil Ketua Matakin Provinsi memiliki agenda penting pertemuan di Pemerintah Kota Pangkalpinang, maka untuk mengawal perjalanan rombongan diwakilkan kepada Js.  Suryanto Tjandra untuk mengajak keliling kota dan mengunjungi salah satu kelenteng yang paling ramai dikunjungi untuk sembahyang bagi umat di kota Pangkalpinang; Kelenteng Kwan Tie Miao yang juga di ketuai oleh Ketua Matakin Provinsi Bangka Belitung ZL.  Henry Kurniawan.

Setelah rapat selesai dilaksanakan tim kembali untuk makan siang bersama di sebuah restoran seafood ke arah bandara, dan setelah itu tim kembali ke Jakarta dengan pesawat NAM AIR.

Ir.  Wery Chin dan Xs.  Ir.  Budi Santoso Tanuwibowo, MM
Semoga dapat belajar banyak dari bapak

皇矣上帝惟天佑德

Huáng yǐ shàngdì wéi tiānyòu dé

Shanzai

Desember 2021

MAJELIS TINGGI AGAMA KHONGHUCU INDONESIA

MATAKIN PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

CATATAN

Sebuah catatan penting dari Ws.  Budi Suniarto, SE, MBA, terkait kunjungan ini, melayani ataukah dilayani,, ?

Pulang dari kunjungan pulau bangka, ada Rohaniwan yang WA saya, katanya “Mantap Ws, sudah melakukan pelayanan bagi umat di bangka, saya selalu mengikuti perjalanan Ws dan rombongan di sosial media”

Ucapan ini membuat saya berpikir, dan saya jawab “Saya datang bukan untuk pelayanan”

Tulisan “mengetik” muncul di layar atas, disamping foto profile lawan bicaraku. Tak lama, bunyi notifikasi WA masuk, Ting Tong…Ting Tong… “Lho kok gitu?” Penuh tanya yang meminta penjelasan.

“Rasanya, justru umat di saya yang melayani saya, bayangkan…mereka harus memikirkan kami rombongan tidur di mana, memikirkan bagaimana transportasi kami selama di sana. Mengatur jadwal. Mereka mengatur siapa yang bisa temani kami,  Mereka siapkan apa dan di mana serta jam berapa kami makan. Bahkan, mereka sudah agendakan di mana kami ngopi. Di mana kami harus swab antigen sebelum pulang, dan banyak hal lagi, yang membuktikan bahwa sebenarnya merekalah yang melayani kami.”

Kembali tulisan mengetik muncul di samping profile, kali ini agak lama, berapa kali tulisan “mengetik” nya hilang, tapi berita tidak segera muncul. Kembali muncul tulisan “mengetik” Rasanya lawan bicaraku tidak menyangka dengan apa yang saya sampaikan. Jadi kalimat sanggahan yang sudah dibuatnya, di hapus kembali dan mencoba membuat kalimat baru.

Benarkan, ini jawabannya “Wah, benar juga apa yang Ws katakan…, Terima kasih sudah memberikan pencerahan, saya jadi malu, karena saya sering menganggap saya sudah melayani umat, jangan jangan seperti apa yang Ws katakan, sesungguhnya sayalah yang dilayani umat. Saya paham sskarang setelah Ws sampaikan,  sehat selalu Ws…”

“Shanzai” jawabku singkat.

Dear para Rohaniwan, Jangan takabur dengan apa yang sudah dilakukan, karena bisa saja sesungguhnya kitalah yang dilayani, dan akhirnya merekalah yang layak untuk menerima berkah kebajikan.

Pantaslah bila ada Rohaniwan yang bersembunyi di balik kata pelayanan padahal sesungguhnya dia lah yang dilayani, maka tidak pernah dia dapatkan berkah kebajikan, maka kehidupannya tidak terpelihara.

Suerrrr, saya jadi takut sendiri dengan buah pikirku ini. Semoga selalu ada kerendahan hatiku, untuk menyadari bahwa seringkali gelar dan embel embel di depan atau di belakang nama, mampu menyilaukan mata hati dan kemudian muncul kesombongan, sehingga tidak lagi mampu membedakan kata antara MELAYANI atau justru DILAYANI.

Semoga dikuatkan hatiku untuk selalu dapat menjadi PELAYAN KEBAJIKAN.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *