Tahun Baru Imlek : Perayaan Hari Raya Agama Atau Budaya?

Tahun Baru Imlek adalah Hari raya bagi umat Khonghucu; bukan klaim sepihak umat Khonghucu. Landasan keimanan Khonghucu berkaitan dengan hari raya ini terdapat dalam kitab suci Agama Khonghucu Kitab Sishu & Wujing. Perintah Agama Khonghucu menjelaskan bahwa terdapat rangkaian ritual keagamaan, baik sebelum dan setelah hingga 15 hari sesudah Tahun Baru Imlek.

Landasan filosofis maupun historis jelas dalam sejarah resmi Tiongkok bahwa zaman Dinasti Han (206 SM – 220 M) saat Rujiao (agama Khonghucu) menjadi agama negara, maka ditetapkan tahun baru Imlek sebagai hari raya, menggunakan penanggalan berdasarkan penghitungan tahun kelahiran Nabi Kongzi (Confusius; sebutan yang disematkan Matteo Ricci misionaris Katolik saat berada di Tiongkok).

Tahun Masehi 2019 + 551 SM (tahun kelahiran Kongzi) adalah hitungan tahun baru Imlek 2570, maka disebut pula 2570 Kongzili.

Penetapan penggunaan penghitungan tahun kelahiran Kongzi 551 SM dilakukan oleh Kaisar Han Wu Di pada tahun 104 SM.

Adapun masa pemerintahan Kaisar Han Wu Di (1 – 87 SM); jadi bukan baru ditetapkan di abad 19 seperti argumen beberapa pihak, melainkan sudah sejak ribuan tahun yang lalu.

Penanggalan Imlek adalah suatu sistem penanggalan yang sudah sangat tua umurnya, sekitar 4.700-an tahun yang lalu. Kaisar Huang Di yang hidup pada 2696 SM – 2598 SM adalah penggagas pertama penanggalan Imlek.

Huang Di dianggap sebagai ‘Bapak Tionghoa’ dengan sebutan Kaisar Kuning. Bagi umat Khonghucu (Rujiao) mengakuinya sebagai salah satu Nabi atau Raja Suci (dimana ulasan tersebut terdapat dalam Kitab Wujing).

Sistim penanggalan karya Huang Di ini kemudian diterapkan oleh Xia Yu, pendiri Dinasti pertama di Tiongkok menjadi penanggalan resmi Dinasti Xia (2205 SM-1766 SM).

Namun Dinasti kedua yakni Dinasti Shang (1766 SM-1122 SM) tidak menggunakan penanggalan Dinasti Xia tersebut dan menggunakan penanggalannya sendiri.

Saat Dinasti Shang diganti Dinasti Zhou (1122 SM-255 SM) juga tidak menggunakan penanggalan karya Huang Di tersebut. Ketika Dinasti Zhou tumbang dan diganti Dinasti Qin (255 SM-202 SM) mereka memakai penanggalan sendiri, yakni penanggalan Dinasti Qin.

Semasa hidupnya Nabi Kongzi, Khongcu, Confusius (551 SM-479 SM) yang hidup pada zaman Dinasti Zhou menyerukan agar memakai penanggalan Dinasti Xia yang merupakan karya besar Huang Di (ulasan tentang hal ini terdapat dalam Kitab Sishu & Wujing).

Nabi Kongzi melihat bahwa mayoritas rakyat Tiongkok saat itu mayoritas hidup dari pertanian. Maka penanggalan karya Huang Di yang dipergunakan Dinasti Xia adalah penanggalan yang tepat karena awal tahun baru jatuhnya pada musim semi.

Maka kelak penanggalan Imlek disebut juga penanggalan petani & tahun barunya disebut perayaan musim semi.

Namun seruan bijak Kongzi baru dilaksanakan pada masa Kaisar Han Wu Di di tahun 104 SM. Kaisar Han Wu Di (140 SM-86 SM) adalah Kaisar pada zaman Dinasti Han (206 SM – 220 M).

Beberapa referensi sejarah Tiongkok menjadi landasan historis mengenai hal ini.

Saat itu Rujiao (Kongjiao) sebutan agama Khonghucu menjadi agama negara (state religion). Kaisar Han Wu Di yang memakai kembali penanggalan Xia karya besar Huang Di kemudian menetapkan tahun kelahiran Kongzi 551 SM menjadi awal dasar penghitungan penanggalan Imlek; maka disebut pula penanggalan Kongzili.

Penghormatan terhadap Kongzi yang dilakukan Han Wu Di setara dengan penghitungan tahun kelahiran Jesus pada kalender yang disebut penanggalan Masehi serta Hijrahnya Nabi Muhammad dari Mekkah ke Medinah dihitung sebagai tahun pertama kalender Hijriah.

Tentu ulasan tentang hal ini bisa menimbulkan perdebatan. Tapi sebagai penulis, saya memakai banyak referensi sejarah dan kitab suci berdasarkan agama Khonghucu.

Jika kemudian konteks hari ini Tiongkok dengan kebijakan politik tidak mengatur tentang agama & tahun baru Imlek dirayakan semua pihak, bukan berarti menghapus sejarah & ritual keagamaan Khonghucu berkaitan dengan tahun baru Imlek.

Agama apapun tidak lepas dari konteks budaya dimana agama tersebut berkembang. Ada budaya yang dibawa maupun akulturasi dengan budaya setempat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *